adela

– aku tak mau lagi mempermainkan kata
walau padahal kemaren kami mesrah
kami saling melumat, entah siapa yang jadi pelacur

tapi tadi, saat baru saja ku buka mata
kata itu pun beramai menghampiriku
ada yang membawa parang tombak dan panah
dan aku terkapar

aku terlambat sadar
… bahwa ia bisa saja menjadi bidadari atau bidaduri

kini aku menggigil dalam selimut ketakutan
seperti semut di tengah hutan
yang kapan saja bisa mati
bisa abadi

bila abadi aku ingin menjadi iblis

– UNTUK BINIKU KELAK

saat kopi hampir pada tetesan terakhir
bumi bosan dengan abu rokok
aku menulis kamu dalam lubuk cinta

wahai wanita sesederhana asap ganja
yang tak kupedulikan masa lalu mu
yang tak kudengarkan kabar burukmu
tetap semangat, tataplah esok dengan senyuman
… biarlah hidup mengitari porosnya
lalu kemarilah

nikmati saja rokok yang masih lima batang itu
sambil menunggu kopi baru, yang airnya baru saja ku tanggar
aku ingin ada kesepakatan dalam pertemuan kita ini
kesepakatan hari depan

aku memilihmu bukan hanya untuk pemuas birahiku
bukan untuk penambah rokok kopiku
aku memilihmu untuk penerus kita yang terbaik
ahli waris entah apa kita, pembenar kesalahanku

seumpanya kelak kita beranugerah anak laki
aku ingin ia istiqomah dan seberani husein
secerdas tan malaka sehebat aidit
luar biasa seperti orang di belakang ahmadeenejad
kalau musisi seperti iwan fals dan penyair sekelas wiji thukul
dan bila pengusaha ku ingin ia bukan penindas pekerja,dermawan tak lupa kewajiban

bila anak perempuan yang teranugerahkan
aku ingin ia cerdas, baik sederhana seperti kamu
dan penerima pria serba kurang seperti aku, siapa tau aku bukan yang terakhir
dan asaku ia pencipta pria hebat seperti kewajiban yang kau emban kelak

walau masih tiga batang
kopi tambahan ini bisa mendamai

yang tadi-tadi itu hanyalah harapan, sayang
aku takkan memaksa mereka menjadi apa
hanya titah agar mereka menjadi orang baik

seperti yang kau tau
aku bukanlah hamba baik di hadapan tuhan
tapi bagi anak-anak kita, aku ingin mereka bangga punya sahabat seperti aku

*saat kutuliskan ini
beberapa wanita berkeliling di otakku

–  kau akan di hargai kalau kau jadi pemenang dan kau akan lebih di hargai kalau mengaku ketika kalah…

gap!! pengadu e balak enem, agik menang la….

– kau tak salah saat kau kata bahawa kami adalah pion
tapi kau lupa bahawa kami banyak
kau juga tak ingat bahawa kami pernah membuat mentri terbirit-birit
bahakan kau amnesia bahawa kami pernah membunuh raja

skak mat!!!
hitam menang, pertandingan di lanjutken….

– nada adalah ruh dari kata-kata
dan merekalah yang luar biasa ketika mampu hidupkannya

seperti kata-kata mulia yang terlontar oleh imam
musisi yang memberi melody pada syair
para pesyair yang khusu’ dengan bahasanya
orasi saat demontrasi
atau kita yang kini tengah membaca

seperti halnya manusia
… ia akan menjadi bangkai bila tanpa ruh

salam rusak alam ternyahsyat untuk seluruh dunia
dari lubang camoy, Aseli produk babel.

entaugekukadaktakenla

– seperti maling saja aku ini, hingga sindiran konyol itu salu di lontarken ke aku. maaf bung, aku bukan pencuri. ku harap kau juga tau sejarah dan tau diri…

– mereka yang terus berusaha kreatif adalah mereka yang bersemangat untuk tidak menjadi peniru. dan orang-orang kreatif selalu hidup walau dalam suasana mati.
(Mahmoud Ahmadivisa)

– bila kau telah langkahkan kaki, maka jangan pernah takut untuk tidak kembali.
-jimat POEtra ranTAW-
slamat hari ini semuanya, semoga jin dan manusia dapet kebahagiaan di hari ini dan hari berikutnya….barakallahu lakum……….

– seperti menyeduh kopi dengan air dingin begitulah aku dengan sebuah rasa.hampa…..

– dunia ini ingin di kuasai segelintir orang dan sisanya akan di musnahkan.
(ringkasan sederhanaku setelah membaca john perkins, membongkar kejahatan internasional ) trims pinjaman bukunya sul N.

– seperti arjuna kini aku lagi cari pacar dan cari pacar lagi…

– aku telah merangkai keindahan sejarah, bila esok aku bahagia aku tak heran. otimis itu harus dilahirkan oleh rahim keyakinan kita sendiri.selamat malam ini kawan-kawan, semoga masa depan kalian indah…

– kita bukan komputer yang bila rusak menungggu servisan biar benar, kita manusia.
selamat hari ini samua,..moga-mogalah kita termasuk pribadi yang sadar kekurangan dan merubah hingga menjadi orang-orang yang berbuat dan mendapat kebaikan…..bravo persipura…..

– kata nabi guwe “maa nadima man istaharo” -nggak bakal nyesel orang-orang yang bermusyawarah-
maka merugilah orang-orang yang akan menjadi penyesal hanya kerna tidak bisa berkomunikasi dengan baik.
ane kudu belajar ngomong ne…hehe…..

– kata nabi guwe “khairunnaas anfa’uhum linnaas” -sbaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya-

lalu seberapa mampukah kita menjadikan FB alat yang bermanfaat bagi selain kita…siapa tau aja ada pertayaan serupa pas mau masuk sorga kelak…hehe….
kurasakan cerminan pecah dari segelas kupiku ..agarhiduptaksiasia…
ngupi agik ah……

– semua kita memiliki kesempatan sama untuk menjadi pelawan penindasan atau menjadi penindas baru.
maka hari ini setidaknya berteriaklah saat ada hak yang terampas dan esok hari jangan lupa membawa cermin. dan bila kernanya kau mati, maka matilah dengan tersenyum…..

– di balik niat besar nan mulia terdapat motivasi sederhana yang manusiawi. mana yang di depan hanya sejarah yang mampu membuktikan. (anak indef)

kernanya jangan heran bila ada pahlawan yang berjuang kerne jatah babehnya yang ketipu ato tanah leluhurnya yang ingin di gusur. atau kelak kau menemukan sisi lain dari berita hari ini……
selamet tahun ini…moga-mogalah tahun ini dan selanjutnya samua nyank baek-baek yang kalian dapet……………..

– ada perbedaan antara :
wajib belajar sekian tahun dengan wajib sekolah sekian tahun. perbedaannya ada di letak siapa yang bertanggung jawab.
selamat tahun baru kawan….

– oh tuhanku yang maha cinta, klo emank jodoh adalah takdir kau maka berikanlah yang terbaik untukku dan satu lagi pintaku…jangan diperlama lagi ea…..loby ringan bujang alay….huakakakkakaakkkk…..

– klo tujuan hidup adalah uang maka kemiskinan hati yang kan di dapat. dan bila tujuannya kebahagian dan menjadikan uang sarananya maka semangat kaya akan muncul hebat,….

– segala prediksi dukun di papar,segala doa kiai di jual. haha sebuah negeri.

– baru saja semalam aku lihat cahaya kehidupan itu menerang, tapi siang ini ku pandangi ia kian meredup. cinta monyetku, bilakah kita bersama…

– WADAW!!!!!!!!!!
TERNYATA HARI INI VALENTINE DAY…AMPUNI ANE TUHAN…ANE LUPAK KASI TAU EMAK WAT MASAKIN KETUPAT….

– hai wanita cantik di ujung gang sana, kau tau betapa secuil iwan fals telah menjadi bagian dari darahku..maka bila kelak ku katakan cinta untukmu…bilang saja iya, iya lebih baik daripada kau ku gampar….

– orang-orang luar biasa itu lahir dari rahim peristiwa. dan aku tak lahir dari rahim yang biasa.hidup harus berlangsung walau dalam kematian nyata.

– izin aku melupakanmu…
klo nggak di kasi ijin, terpaksa ane bolos….

– orang pintar itu bukan ketika toga di kepala tapi saat ia membaca dan orang cerdas adalah ia yang tau hal ini dan merubah…so jangan minder…seperti iklan warkop “mari membaca”…

– cintaku padamu tak butuh kembalian…

– berbahagialah kau saat menjadi dibutuhkan oleh orank lain, seperti aku kini.
tapi yang mereka butuhkan bukan manfaatku melainkan….

isilah titik-titik berikut dengan jawaban yang tepat!!!

– sepertinya indonesia butuh tambahan pelatih untuk kemajuan timnas kita…klo boleh, ane usul mike tyson…

– kecantikanmu seperti harga BBM..salu naik takpernah turun…..

– kalo nggak bayar pajak apa kata dunia???
klo pajaknya di sikat apa kata akherat???

– klo kau dapet rizqi, walau secuil berbagilah dg mereka yang di sekitarmu.
disadari atau tidak, banyak atau dikit mereka berperan membantumu.
setidaknya mereka tak halangimu dalam mendapatkennya, paling setidak2nya mereka belum merebut apa yang telah kau dapat.

sorry sob…aku baru bisa berteori..

– taksadar di adu domba, terlupa musuh utama bersama.

– diluar apa yang di pikir, keluar apa yang di harap.

– wanita cina yang ku cinta, apa kabar?
masihkah kau pegang rindu hati yang dulu ku tarok tepat di atas jari-jari kirimu ?
atau seperti wanita-wanita lain, kaupun membuangnya bersama gelombang rasa ini…

– aku tak menulis apa yang kurasa tapi apa yang ku pikir…

– setelah sekian kali ku undokan sejarah kita, ternyata engkau pernah ku delete dari pragraf cinta …dan kini ku bingung, harus ku apakan lagi folder ini…

– lagi mengagum apa yang di buat tuhan…lagi mikir apa yang di pikir tuhan…

– “persahabatan itu hanya ada saat kau punya tuak dan kau tarok di atas meja dan bila kau terluka betadine banyak di apotik”

setelah tadi aku di buat seperti maling, aku teringat jelas kata2 kawan lamaku yang pemabok itu. dan kini aku baru yakin.
hahaa kehidupan ini ada masanya seperti syair imam syafi’i…hahahaaaa……

– aku bukanlah gus mus yang setiap syairnya beribu makna…
aku juga bukan iwan fals yang lagunya bisa hidupkan yang mati…
aku hanyalah api tanpa kayu tanpa sumbu…dalam damai aku tulis ini…

– dengan palu di tangan kiri dan pacul di tangan kanan ku hampiri para mulia agama lalu kurampas du’a-du’a terbaik mereka untuk kita telan kawan…sabar dikit ya….

– banyak-banyak berbaik itu baik, baik kepada orang banyak itu banyak baik…baiklah klo begitu…

– bila kau susah hari ini, bisa jadi kesusahan tersebut adalah hal yang baru tercapai kerna tertunda sebelumnya…maka jangan lupakan apa dan siapa yang menjadi penunda kesusahan itu…setidaknya tulisan ini cermin bagiku seraya ingin utjapken makase banyak untuk kalian yg baik…

– para ciptaan berlomba menuju keridhaan sang pencipta dengan jalan yang diyakini. lalu bagiku, menganggap diri benar itu benar namun memvonis yg lain salah tanpa alasan benar itu salah…saling menghargai sajalah, toh mempertajam perbedaan hanya melahirkan ketumpulan penemuan kebersamaan…keef peace yaa akhy…TURUNKAN HARGA BBM SEKARANG JUGA!!!

– klo meningkatnya cintaku padamu menjadi faktor naiknya harga BBM, maka takapa cintaku standar dan bila perlu terus merosot…kerna cinta kita lahir dari rahim pandangan yg sama tntg sebuah negeri…maaf cintaku…..

– seperti halnya jasad yang butuh ruh, kata pun butuh nada agar ia hidup.

– setelah merasakan susahnya mendapat kebaikan, saya baru terasa ternyata saya bukan orang baik.(devtra bede).

– demi makan hari ini ada manusia tega membunuh pemberi makannya kemarin, maka terkadang anjing lebih bisa di andalkan dalam kesitaan pada tuannya.

– lagi nyari mantra ampuh wat nyari jodoh…bila kiranya kisanak sang empunya mantra tolong kabarkan aku…..

– KORUPSI HARGA MATI!!!
(Devtra Mayday)

dan saat semua tameng dipakai
aku tertawa dalam tauku

aku tau ketika polisi dengan pakaian dan mobil resminya
mengambil jatah di kafe-kafe ecek pinggiran pantai
aku tau tentara yang dengan gagahnya suap hakim jaksa lenyapkan perkara
aku tau bupati lugu itu peras para kepala dinas
… aku tau gubernur jual darat jual laut demi kayakan lingkarannya
aku tau para dewan makan-makan bagi duit
setelah jebolkan satu peraturan setan
aku tau para menteri dapat fee abis teken proyek si doi
aku tau presiden dapat tambahan umur
kerna cipta-panjangkan perusahaan-perusahaan anjing

lalu diam-diam aku juga tau ada oknum rakyat
yang menjadi sebab keabadian ini

aku tau…aku tau…
wahai ruh angin
bila kerna tauku ini aku di bui atau mati
tolong sampaikan salam pada ibrahim
tentang revolusi yang tak kunujung hatam

– bila kemiskinan adalah takdir tuhan seperti kau kata, maka kini aku mengundurkan diri menjadi hamba.(devtra mayday)

mari diskusi…

– jauh sebelum bangsa indonesia menjadi bangsa bermental kerdil dan betah melarat, korporatokrasi telah hatam menanamkan pemiskinan struktural (Devisa Saputra SE)

– hampir mustahil menahan kenaikan BBM…tapi klo semua gubernur se indonesia mengancam klo BBM naik kami pisah dari indonesia….klo ini terjadi ane baru yakin………………..
…………………………

…………………………………………………………………………….klo ntu gubernur nggak bakal panjang umur……
 
– kerna sama-sama cinta orang tua
kerna sama-sama cinta tanah lahir
kini kebersamaan kita harus bersudah
dan cinta ini entah sampai kapan sanggup kutelan

dak tau ngape la mak, lum judo dugo e-

– yang membuatku semakin cinta padamu kerna kau tak seperti tukang kredit yang salu nuntut kesempurnaan…bahaya laten tanggal 15 itu masih menghantui……..ya rabb…please….help me…………
 
– terkadang aku ingin seperti anjing
yang setia pada tuan yang klo protes dalam gonggongan, yang lain cuman bilang wajar dia kan anjing.

kadangan aku ingin menjadi naga
walau takada, berita tentangnya selalu terdengar

kadang-kadang aku ingin kayak babi
yang membuat orang islam dan pecintanya berdebat akan sebuah kehalalan

tapi tersering aku ingin memjadi manusia yang bisa mentertawakan status facebook yang seperti ini
AHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAAHA

HAHAHAAAA
 
– bersamamu membuatku seperti mati
tanpamu membuatku tak tau arti hidup

takapalah aku hidup bersamammu kerna kutau kernamu ada matiku yang tertunda….

 
– allahku…permudahlah kehidupan orang-orang yang mempermudah kehidupan hamba-hambamu…
– melihat indonesia lebih dekat tak ubahnya membakar api dalam laut….
– “tidak sebungkus nasipun,tidak sebungkus rokokpun saat susah ini aku dapatkan dari kawan (sensor nama aselinya) yang ku anggap solid dan mampu membantuku. sekedar informasi aja bung, bahwa tidak benar apa yang ia dapatkan itu tanpa secuilpun peran dari aku”

begitulah lebih kurang perbincanganku dg seorang sobat tadi sore.

perbincangan ini kujadikan oto kritik untuk ku, dan kepada seluruh kawan-kawanku se antero jagad klo aku kurang baik bahkan buruk kpd kalian tlg sampaikan agar aku membaik. jujur dari pada kehilangan kalian lebih aku kehilangan sebelah sendalnya Erwin Ngarot….hahhahaa….intinya masih pelit jugak yak?..hahhaa…

tapi kali ini aku serius kawan
TURUNKAN HARGA BBM!!!

– sepertinya asik hidup seperti Spongebob yang polos, optimis, selalu ceria, dan memiliki prasangka baik terhadap siapapun. walau Terkadang perilaku ini membawa bencana, dimanfaatkan, atau terjadi salah paham kala disatukan dengan sifat-sifat mahluk lain.

entahlah, yang pasti aku lebih senang menontonnya ketimbang harus melihat para sodara demonstran anti kenaikan BBM di adu domba dengan TNI/POLRI. yang dalam keyakinanku bahwa mereka juga tak mau BBM melangit tinggi.
Salam Pramuka!!!

– asing-utang-pejabat korup-maling jama’ah-pengendalian asing terhadap penguasa negeri-kebijakan pro asing-kebijakan anti rakyat-rakyat sengsara-negara tak bisa maju-asing semakin berkuasa atas negeri-

klo kita sepakat bahawa takada rakyat indonesia miskin, namun dimiskinkan oleh kebijakan yang pro asing dan kebijakan pemiskinan rakyat maka mata rantai harus terputus. di awali dengan menghapus utang lama dan menolak utang baru. nasionalisasikan aset-aset maling di negeri ini.lalu mari bermusyawarah mau di bawa kemana indonesia kita ini?

buka’ dikit, joss….

– bo bo om mao naok kotonyo, borbogoi ponolokon pon do loncorkon oloh sojomloh oktovos doro borbogoi kolongon.bogo moroko konookon bo bo om somo dongon momporkoyo osong don pomodol bosor don rokyot somokon moskon.

ia kawan, aku paham betul kalian menuntut perubahan ke arah yang baik.menuntu hak kalian yang telah di rampas. tapi mulutnya biasa aja donk, jangan monyonk. nggak enak di liat tetangga..hahaaa…peace bro!!!!!!!

– sebagian orang yang menolak kenaikan BBM sudah makan siang di rumah “sang raja kecil” sebagiannya lagi akan di undang dan sisanya akan di adu domba dengan POLRI dan TNI.
– mau tidur untuk mencari kerinduan yang dulu ku susun rapi dalam tong sampah…selamat sekarang kawan…semoga kau sehat salu…dan semoga POLRI dan TNI bersatu menolak kenaikan BBM…
– persiapan sholat jum’at…pengen ngeloby para khotib biar doanya sama…HARGA BBM NGGAK NAEK!!!
– tuhan…aku ingin dia bahagia walau tanpa aku….
– klo pun kelak kita bersama, maka itu bukan kerna cintaku yang bertambah atau bahkan seperti dulu. kebersamaan kita hanya kerna aku ingin menepati janji dan nyawa yang tel;ah kau beri…
– saya adalah yakin bila manusia memiliki dasar kemauan untuk berubah, walau keyakinan tersebut sering sakiti hati….selamat hari ini kawan..moga-mogalah hari-hari kita berubah semakin baik…
– waktu mengajarkan aku untuk menjauhi orang-orang yang tidak tau terima kasih dan orang-orang pencari aman tanpa karakter…lalu ia menitahku agar aku menjadi kebalikannya…
selamat sekarang sobat, semoga kalian berumur tua dengan bahagia….salam sukur harga BBM di tunda naek!!!
– kalau sekali kau menciplak karya orang lain berarti telah sekali pula kau menutup pintu kreatifitasmu. dan penciplak takkan pernah menjadi pendobrak.
salam puntung kopi…
– tetaplah tersenyum dengan tutur sapa yang halus, walau terkadang inilah yang sering menipu. tapi engkau jangan.
barakallahu lakum!!!
– kalaupun jahat dan dendam bisa membuat orang lain belajar akan arti kebaikan,harapku jangan dilakukan…

persiapan sholat jum’at, pengen ngeloby khotib unt sama dalam du’a agar kalian bahagia…
salam pucuk kusur!!!

– minom kupi isep rukok
aku tersenyum puas

moga-mogalah mimpi yang kudengar via telepon tadi adalah cahaya kebangkitan.
dan moga-mogalah senyumku inipun terpancar kebaikan untuk hari depan kawan-kawan yang lebih baik.

salam lempah kuning, makanan khas babel…

– orang berilmu itu tidak pernah mati, kalo kau pengen idup trus maka berilmulah.
salam kebon lada, babel.
– beberapa hari yang lalu adalah hari-hari terbaik aku, hari dimana aku tidak di selimuti cahaya kemunafikan. hari-hari itu adalah hari-hari yang keras, ganas penuh tantangan. terima kasih sobat, yang tak benciku saat kulupakan kau saat tepat tuak dalam genggaman. dan semoga kesemua kita tak lepas gandengan persahabatan bukan hanya saat bersama ada tawa di atas meja.
barakallahu lakum…ane du’ain ente semua cepet kaya….
– cintaku tak seperti Listrik PLN yang sering mati, tapi seperti bulan yg memang sering kau lihat tak bercahya namun hakikat tetap bersinar….
– saat aku sadar kemarin salah, saat tau hari ini harus bagaimana aku…saat itu aku tak bisa buat apa barang secuil…hingga parang terasah tajam menumpul dalam genggam..bahkan soekarno tanpa titah dalam mimpiku…..
– seperti rokok yang tak berasap, kini aku merasa kehilangan ruh…lemas tanpa arah…
semoga besok UN nya gampang….ehm….

 

uu

melupakanmu tak semudah ngupil…

baseng la

– tausiyah bok hatar : kalau amunisimu tak lebih cepat dari suara ibu-ibu mendingan takusah perang, cuci kaki bobo’ manis.lalu bertaubatlah….
Tidak Suka · · Bagikan · 4 Januari pukul 1:25
– walau musuh bersenjatakan lengkap, aku tetap berperang walau hanya dengan batu dan kayu. takkan ku mundur. (zrowell)…
– kaulah penentu alat dan bukan kebalikannya…

– SEPERTINYA SANG GARUDA HARUS DI BAWAK KE MAK EROT CENTRE…KESIAN BRO…..

– moment sederhana waktu itu menjadi lintasan sejarah yang dahsyat yang kini melewati otak rinduku…rindu sederhana padanya…

– sirami hatimu dengan tangisan, agar ia tumbuh subur dengan buah kepedulian hingga kalian menikmati nikmatnya keadilan (ibnu muhammad nur)

-tak lari husein dari takdir mautnya untuk pelajaran akan wajibnya sebuah perlawanan (habibussajaroh)

-melihat peta dan data bangka belitung,..aku tak menyangka bahawa disini sekolah,kuliah, pelayanan kesehatan dasar belum gratis semua….
sudahlah mas…istirahat yang manis…lalu bertaubatlah……

-dulu kita telah melukiskan rancangan perahu dan kitajuga telah menyiapkan hingga perahu itu pun hampir tercipta… tapi kini … bukan kerna letih hingga tak terdayung tapi kerna tak bisa kita mulai….dan aku harus tetap berlabuh walau tanpamu…dan bila kau terlahir lebih atau bahkan tidak, maka bersamanyalah aku kan berlayar….sebuah cerita…..
TIKET E MAHAL JEK!!!

– ku ingin kau sederhana sayang
seperti asap ganja yang terbang
seperti tuak yang mengalir kencang
(saat bersama)

takada yang salah, hanya keadaan.

– bersukurlah..kerna tuhan tanpa canda sedikitpun menciptakanmu…hingga kau sempurna dimataku….

– tuhankami yang maha satu, satukan kami tuhan…
agar kau tak repot membalas emailku….

– kau tak sepeti ganja yang terhisap
tak sama dengan tuak yang tertelan
kau takubahnya air suci yang memabukkan
(lukisan devtra di atas lautan)

– bukan hanya cermin yang di butuhkan, kerna ia hanya mampu memperlihat sisi lain siapa kita..tapi juga teropong agar kita tau siapa selain kita dan bisa buat ngintip si kokom lagi mandi…ehm….cekit cekit……

– bukan hanya cermin yang di butuhkan, kerna ia hanya mampu memperlihat sisi lain siapa kita..tapi juga teropong agar kita tau siapa selain kita dan bisa buat ngintip si kokom lagi mandi…ehm….cekit cekit……

– ingin ku tekan control Z hingga lima tahun lalu pada key board sejarah…

– aku melihat polisi dengan mobil patrolinya meminta jatah rokok di kafe ecek2 di pinggiran pantai……cuman usul pak..klo bisa jangan pake mobil polisi ato seragam..tak elok itu…maen cantik lah dikit…..masa’ kalah sama preman kampung…..klo ntar ketemu lagi, baru ane jepret ente….

– aku ingin mati saat bersama kawan-kawan dan ada hal bermanfaat yang ku berikan pada mereka…ini doa ku hari ini tuhan….

– hanya sepenggal kata yang lahir tanpa rahim
terawat seperti mengasah pedang
aku sungguh mencintainya laksana anakku
kataku, besar dan murkalah kau!!!

– sekarang ane dah punyak elmu kebal, aseli ciptaan istana negara…bagi nyank mau, aktifin infra rednya….ehm……

– hanya mengumpulkan tetesan damai, lalu ku seduh untuk kupi hari ini….selamat hari ini semua…semua yang baik-baik semoga kalian dapat..

– ada kata indah yang ingin ku ungkap padamu…tapi kini tak mampu…lagi sariawan cin…..

– runtuh sebuah sejarah
yang kokoh kita bangun
angan besar pun terbawa angin
di tengah bumi yang kita injak aku tetap bermimpi

sebelum matahari terbit
aku ingin mencium aroma tubuhmu

lalu dengarkan lagu tak merdu
yang baru saja ku cipta
agar dunia tak lagi lahir
dan kita tetap tertawa

saat tali asa tersisa secuil
sang tinta yang hampir habis
kepulan asap tak henti
aku ingin berbisik tepat di telinga hatimu
-I still love you, O servant of God who has given me a glimmer of light of life-

– kita lebih asik membahas muda-mudi yang tak lagi jaka taklagi perawan tapi kita lupa betapa mahalnya dunia pendidikan bagi mereka, kita semangat bercerita tentang slengeannya penampilan kini tapi kita diam saat sembako semakin mahal, kita sangat mood waktu ngomongin barang apa yang harus di pake’ dan di beli tapi kita taksadar betapa kekayaan negeri trus di curi.nyank bukan kita, santai sajalah…biase bae jek….

– pengen bekebon buah simalakama ne…bagi nyank punya bibit, hubungi ane secepetnya jek…ane bayar mahal dah……

– (hanya ilusi setelah mimpi)

kokom, kau cantik malam ini
hingga sang rembulanpun tersipu malu mendekatku
di mataku, kau indah kokom

kokom, kau wanita tercantik pagi ini
kuyakin kau tau siapa luna maya siapa alisa subandono
dan kau juga tau yang di sebut bidadari
bila kelak ku jumpai mereka
pasti kusarankan mereka agar belajar menjadi cantik padamu

kokom, aku sangat mengerti bahawa kita sama
sama- sama suka
kurasakan kerasnya buah dada kananmu
bibirmu yang aduhai perlahan melumat bibirku
lalu jemarimu dengan damai memelukku

kini aku tenang kokom
walau sekian botol bir memanasi badanku
walau kepala lebih senang bergeleng
kerna tawamu, kerna kamu

kata-kata yang beku
begitu deras mengalir bagaikan tsunami
ia lahir begitu saja saat bersama
juga kernamu, kerna kamu

o, kokom
setelah kuhisap rokok dengan terdalam
dan telanan bir hitam, aku jujur
kau hanya mengingatkanku

aroma tubuh dan senyummu
mengembalikanku pada sejarah
pada dia
hamba tuhan yang dulu memberiku secercah cahaya kehidupan
hingga kini aku tak mati

maaf kokom

– menikmati kehidupan atau menikhidup kematian hanyalah pilihan, aku hanya ingin kalian bahagia sobat…selamat hari ini…nyank baek2 untuk kalian samua…..

– aku lebih senang menghitung asap yang terbuang…daripada mengingat sejarah kita yang hampir punah….hingga petikan terakhir gitarku……
ngupi luk ah….

– kokom, jangan kau pakai lagi shampoo itu. aku tak mau terbawa jauh oleh gelombang sejarah hingga terdampar…bahkan saat kau ku kecup keningku, aku takpunya maaf….hoaaammmmmm….ngupi agik ah,…..

– hari minggu ini satu lagi sobat ane mo nikah…besar harapan untuk pernikahan tmen kita nyank satu ne takada lagi tanya..mana pasangannya?kapan nyusul? pliz berader, ane malu….ato punya solusi???hahahhaha…..

– hai wanita indah disana…sampaikan saja kata cinta itu padaku…sebelum aku menjadi suami orlen…kerna aku takut mengkatakannya….huaaakkkk….mabuk kupi jek….harap manglum uk…..

– hai wanita indah disana…sampaikan saja kata cinta itu padaku…sebelum aku menjadi suami orlen…kerna aku takut mengkatakannya….huaaakkkk….mabuk kupi jek….harap manglum uk…..

– aku ingin mati tinggalkan kata…

– memaksa bahagia hanya akan mendapatkan kebahagiaan yang terpaksa…sederhana sajalah….seperti membakar puntungan rokok yang hampir terbuang….nganget aek luk jek, ngupi…..

– sebelah sana
, dentuman musik tak henti…disini aku hanya memandang langit dan ujung laut…ingin menitip salam padanya,bahwa kini aku sakit…..(kubak)…

– dulu aku berpikir – untuk apa menjaga kesehatan, toh orang sehat klo ditabrak mobil ato di tembak polisi juga mati- ternyat pikiranku salah setelah aku tau bahwa baiaya rumah sakit harus di bayar sesuai dengan tarif bukan pake ikhlas2 seperti kepada si mbah….

– kunjungan, tawa, doa dan bantuan dari para sahabat adalah obat mujarab…dan tentunya setelah kau tau berapa harga ongkos dokter di negerimu….terima kasih yang luar biasa untuk para sobat BARAKALLAHULAKUM!!!

– GONG XI FAT CHAI
terima asih kepada semua wanita china, mataku betah memandang kalian…tetaplah seperti itu….hanya saran : JANGAN KB!!!

– lagi bingung harus pilih yang mana, dan yang mana yang mau di pilih….

– semoga bermanfaat
jauh sebelum para imperialis (tahapan tertinggi dari kapitalis) menjual barang dagangannya guna menguasai perekonomian dunia, terlebih dahulu ia menyempurnakan kita menjadi manusia yang komsumeris/konsumtif.
(Devisa Saputra SE)

– (pemerintah kau menanak seakan-akan beras, kernanya aku tak heran kalau kau memakan seolah-olah nasi)
sepak pojok SEMOGA ADALAH NEGERIKU

– sudah lamaku minta nomornya takjua di kasih…tapi hari ini ketika jumpa ia yang hampirku dulu, setelah ku pandangi kembali ku pinta…dengan senyum manis yang masih betah ku telan iapun memberikan nomornya…seraya berkata shiao macan bro…

– bangkrut terjadi bila utang melebihi jumlah aset, dan ini terjadi pada negaramu.
tackling keras RIPUBLIK JONGKOK.

– kau sapa aku
saat salju kerinduan menjadi kobaran api amarah

kau hampiriku
dengan stetes air pada gersangnya tanah harapan

dan aku
dengan bir aku berpikir
kepada tuhan aku diam membisu
hingga langit runtuh air laut ku seduh

istikhorohku sampai asap terakhir

– siapa kita akan nampak terlihat saat kita tak bersama, maka jadikanlah mereka penyesal saat kebersamaan itu telah tiada.tetap semangat orang baik…

– kalau untuk bicara jujur saja kau takut, maka persiapkan keberanian untuk mati lebih cepat dari jadwal.
sliding takle REPUBLIK JONGKOK )Devtra Mayday-Wins Kom-Erwin Putra(

– hanya terlihat salah tingkah bila anda lelaki, bersama empat lainnya dalam satu ruangan.saat sabtu malam.

Mencoba mencari senyum manis gadis itu dari dalam segelas kupi
all the best for you my friends….

– kalau yang baik kau buang, maka kau telah bersedia mendapat yang buruk.

– kalau saja dunia ini sesuai maunya kita, maka mauku kini adalah kembali ke masa dimana aku belum tau nikmatnya dunia…

aku kangen kamu “si pensil”
wanita yang untuk mencium keningnya saja aku tak mampu

– kalau kau di titah mencium sepatu di kaki orang , maka lawanlah. dan bila kernanya kau di tendang, maka tetaplah tegak.

– asap yang hidup dengan nikmat lahir kerna perpaduan api dan tembakau yang hebat. dan aku muak bila itu taklengkap adanya. begitulah kita, hingga murkaku yang terlahir hampir sempurna…

– sederhana sajalah, seperti bakaran rokok di atas asbak yang tak lagi terisap.
selamat malam selasa awan..semoga kau sehat salu….

– gadis cina itu dengan semangat penuh menghampiriku…akupun tersenyum lebar saat ku pandang wajah cantiknya dengan tubuh yang aduhai….seperti para pria normal lainnya jantungku terasa sangat kencang berdegub…”mungkinkah bidadari itu nyata untukku tuhan” ucapku dalam hati…saat tanganku terbuka, ia tepat di depanku sambil saling pandang….lalu….pookkk!!!…”balikin dompet owe!!!”….

– perang pemikiran dalam satu otak, yakni otakku…..

– cara terbaik menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapinya
tapi bila bermasalah dengan hukum maka berlari lebih baik, kerna beliau sumber masalah.
huacimmm…menuju mimpi indah gadis cina…

TINTA YANG TERCECER

Du’a Hari Ini 

 

 

Oknum pemerintah     : semoga tidak ada yang mengkritik 

kebijakanku.

Oknum Polantas         : mudah-mudahan banyak yang

melanggar tertib lalu lintas.

Koruptor Murni           : lindungi aku tuhan semoga nggak

ketahuan.

Oknum guru               : semoga kebodohan masih melekat

pada otak murid-muridku.

Oknum dokter            : sakitkanlah penduduk sekitar sini.

Oknum hakim             : semoga banyak masarakat yang

berkasus.

Penggali kubur Tulen    : semoga mereka semua MATI.

Ripublik  Jongkok

Di sini pertaruhan nyali dan gengsi

Bendera perang salu berkibar

Juru penjuru temu bertempur

Pantang tantang pasti datang

Stadion Para pejuang

Inilah republik aneh

Penguasa di bawah penuh cela

Tertindas di atas bermuka merah

Nyanyian indah pancing amarah

Hanya tongkol-tongkol bermental botol

Santapan lezat para beraja

Puluhan alasan yang dikeluarkan

Jutaan hujatan yang didapatkan

Inilah republik jongkok

Tersering ada rakyatnya

Dari awalan hingga akhiran tak dapat kedudukan

Bertahta kaya hina

Di Ngeriku

Penguasa terdahulu:

saya harus memimpin lagi

kerna masih banyak program mulia saya

yang belum sempat ditunai

dan pemerintah hari ini belum mampu menyaingi

keberhasilanku.

Penguasa  sekarang :

Kepemimpinanku jauh lebih maju

daripada pemerintah yang dulu

Dan aku yakin semua masyarakat mencintaiku

Kernanyalah akan terus kulanjutkan sampai aku mati.

Nyang belum berkuasa :

Mereka semua pecundang, perusak negeri

Negara kita jauh lebih bisa untuk maju

Kernanyalah aku harus mimpin

  tapi ketika terpilih maka sejarah akan terulang lagi

  kapan kita membuat sejarah baru???

Semoga Adalah Negeriku

 

Adalah ini negeriku

Negeri tentram rukun damai

Akar kekerasan telah mati

Tak ada penindasan tak ada korban

Adalah ini negeriku

Negeri rapi bersih suci

Rapi penampilan bersih perbuatan suci hati

Tak ada penipuan tak ada korupsi

Adalah ini negeriku

Negeri maju jaya makmur

Semua rakyat bahagia

Tak ada sedih tak ada duka tak ada air mata

Adalah ini negeriku

Negeri yang orang kuat punya kunci penjara

Negeri yang tak punya alasan untuk menangkap koruptor

Negeri yang penguasanya tuli bisu buta

Adalah ini negeriku

Negeri yang penuh Seolah-olah

Negeri yang penuh Seakan-akan

Negeri yang penuh Semoga-moga

Tak Lagi Merah Putih

Wajar saja nyalimu tak lebih besar dari seorang banci

Untuk membunuh, mengusir, melawan

Bahkan menegur para penjajahmu

Karena merah keberanianmu

Berganti warna merah jambu

Wajar saja kejujuran merupakan barang langka

Yang sangat teramat mahal

Karena putih kesucianmu

Penuh noda keserakahan dan kemunafikan

Lalu sangat wajar kalau hari ini dan esok hari

Kau tetaplah Buram, Gelap dan Hitam.

Mustahal

Aku ingin mananam bunga

Tapi halamanku gersang

Dengan apa ia tumbuh

Bahkan jutaan penghirup udara

yang termayatkanpun tak mampu menyuburkannya

Diam adalah Kebun Kedustaan

Kebijakan-kebijkanmu bagaikan gunung berapi

Kau letakkan di atas pundak kami

Yang sampai hari ini kau anggap kurcaci

Lemah tak berdaya dan mati

Tapi ingatanmu tanpa nada, sepi

Bahwa kami bisa bersatu dan menjadi raksasa

Yang akan mengangkat menghepaskan

Tepat di ulu hatimu

Diskusi, debat, rapatmu bak kembaran kereta api

Berjalan lambat pada satu jalan rel ketidakadilan

Bising, gaduh, berisik

Memusingkan kepala memecahkan telinga

melenyapkan hati

Pikiranmu tak berubah dalam topan anggapan

Bahwa kami kerikil-kerikil rel, diam membisu

Tapi ingatanmu hilang

Bahwa kami bisa bersatu dan menjadi batu gunung yang besar

Yang bisa menghentikan lajumu

Kekuasaanmu printan istana megah di hutan rimba

Yang menebang habis isinya

demi keindahan dan kelanggenganmu

Dari ujung kaki sampai ujung rambutmu tak tergoyahkan

Menganggap kami pohon perusak tak berdaya

Kelupaanmu abadi dalam tsunami

Bahwa akar-akar kami telah menyatu dengan tembok

kekuasaanmu

Yang kelak akan membesar dan merobohkannya

Saudaraku…

Hari ini kita menonton para pemimpin

Beserta antek-anteknya sukses mengeratkan

Keteguhan luar biasa

Tapi keteguhan dalam perjalanan ke arah yang sesat

Mereka mencoba merebut hati rakyat dengan cara demikian

Tapi terlupakan oleh mereka

Bahwa itulah jalan tercepat mempelancar jalan mereka menuju

neraka dunia

Ooiii… di manakah akhir detik ini

Kalau berkuasa ingin rasanya kutarik kiamat untuk datang lebih

awal

Agar mengakhiri semua penderitaan ini

Inilah kemustahilan yang nyata

Biarlah… biarlah…

Biarlah kubiarkan semua amarahku

Bersemayam dalam genangan tuak

Tapi ku tak bisa membiarkan luka rakyat

Menginap dalam rumah puisiku

Ada apa aku ini

Si apa aku ini

Apakah aku pemakan tanah kuburan pertiwi yang belum mati?

Apakah aku si dungu pengikut penyair-penyair gila?

Apakah aku Jupiter yang tak mampu menampung duka rakyat?

Apakah umat Muhammad atau apa?

Ada apa aku ini

Sudah benarkah ocehanku ini?

Hatiku dipejali dengan harapan semoga aku salah

Tapi harapanku tak ubahnya angin dalam kwaci yang kosong

Malam semakin menjauh tapi mataku membintang

Tertuju pada sebuah buku tebal

Bersampulkan burung gagah perkasa

Ku buka… ku baca… ku baca…

Sampai akhir halaman kami bertatapan

Hingga bumi mengecil… mengecil… hilang.

Rembulan dan sang surya berlomba lari

Menjauh dan mendekat pada merdunya alunan musik ayam

jantan

Yang menggoda kuping hingga aku

Terbangun dari tidur yang memang tak lelap

Seakan rombongan matahari menyengat

Membakar hatiku sampai mendidih sangat

Kembali apa yang kubaca sebelum kumatikan mataku teringat

Tentang indahnya undang-undang

Alangkah wahnya keputusan-keputusan

Sungguh mulianya peraturan-peraturan

Elok nian kebijakan-kebijakan

Otakku berputar-putar berlari-lari

Berkeliling-keliling, berkejaran-kejaran

Tapi pikiranku diam menggunung

Ini semua untuk siapa??

Apakah untuk mereka yang bediri tegak di pinggiran jalan

Menadahkan tangan sambil berkesenian

Atau untuk para gadis tujuh puluh tahunan

Turun dari gunung, malam jam tigaan

Menukar kayu-kayu kering dengan makan

Atau untuk para buruh sang pembangun yang dirobohkan

Atau untuk para tani sang pemberi makan yang dilaparkan

Atau untuk jutaan anak tak berpendidikan

Atau untuk mereka yang selalu di telanjangi dalam bugil

kemiskinan

Atau hanya untuk mereka semua ini

Yang asik nongkrong di atas megahnya kursi

Dikelilingi seksinya para bidaduri-bidaduri

Tenang tentram damai

Tiap detik mencuri nasi

Hatiku meruih-ruih dengan satu kata

Ini adalah kemungkaran

Tapi  yang punya Yad semakin mengeruh

Yang punya lisan hanya menyanyikan satu lagu

Yang punya qolb terus membatu

 

Dan aku, dan kita, semoga cermin tak lagi pecah.

Dilarang Melarang

 

 

aku ingin punya motor dan mobil 

tapi semua show room melarangku

kerna aku tak punya uang.

aku ingin memiliki rumah dan gedung

tapi semua para ahli bangunan melarangku

kerna aku tak punya uang.

aku ingin baju celana dan pakaian baru

tapi pasar-pasar, mall-mall, pedagang-pedagang melarangku

kerna aku tak punya uang.

tapi jangan pernah melarangku

terbang bersama asap kebahagiaan khayalanku

kerna kuyakin hanya ini yang tak perlu pakai uang.

Insya Allah

 

 

MASIHKAH ADA        : cahaya pemberantas kegelapan

tuk  menyinari seperangkat alat jihad

PEMIMPIN                 :sejatilah sang empunya sejati

melihat dengan hati

mendengar dengan hati

bergerak dengan hati-hati

YANG RELA               :lapar demi kenyangnya rakyat

miskin demi kesejahteraan rakyatnya

bahkan mati demi kehidupan

rakyatnya

TERBAKAR                 :berkobar-kobar

darah juang dan jiwa suci

DEMI MENERANGI      :buram suram kelam

hari ini dan esok hari

RAKYATNYA                :merdeka sejahtera dan siap menjadi

pembela pemimpin sejati dari neraka

yang  berapi

Sembah Yang Kuasa

ternyata  Sholat  itu

Mendamaikan   Hati

Menentramkan  Jiwa

Menyehatkan    Raga

sayangnya belum Ku Lakukan

Tahajud

Aku-jiwaku penuh luka penuh duka

bibirku kaku tanpa kata

ke siapa lagi ku keluh

hatiku ingin bercurah padaMu

-malaminisekarang-

semoga kau tak sibuk …..Tuhan….

Takdir 

 

 

Ketika kesejahteraan kebahagiaan dan perdamaian

menyelimuti kehidupan 

Kau selalu dilupakan

Namun ketika kemiskinan kemelaratan

dan peperangan melanda

Kau yang pertama kali dikambinghitamkan

Lalu siapa yang sesungguhnya sang empunya kau

Rokok

Api Kecil dengan Asap Besar

masih terus dan akan terus kuisap

entah sugesti entah nyata

beliau

menambah akal sehat

menurun amarah

mendamai hati

meningkat percaya diri

walau kutahu ialah pengurang jatah hidupku

 

Ingin Ku

Aku ingin menjadi gunung 

yang angin terbesar pun menerpanya takkan tunduk

Aku ingin menjadi laut

yang kalaupun semua orang meminumnya takkan habis

Aku ingin menjadi matahari

yang tak pernah menghentikan sujudnya walau ia raja tata surya

Aku ingin menjadi bulan

yang tak bosan-bosannya menemani malam

Aku ingin menjadi bumi

yang tak pernah mengeluh diinjak-injak penghuninya

Aku ingin menjadi suara

yang mengisi sunyinya nada dunia

Aku ingin menjadi diriku sendiri

yang sampai hari ini aku belum bisa

 

 

Pak Toha Merdeka

 

Off sudah sakelar mentari

Bulanbintang pun mati

Pas semua orang berlari

Mengejar mimpi duniawi

Kau huni penjara Oemar Bakrie

Kau suramkan hari depanmu

Mengubur dendam cinta

Melosokkan nafsu di sudut pulau

Demi secuil cahya

Pada mesin pikir mereka

Jaya dibakkan dalam harta

Kau lautkan

Kehendak doenja lampu ter di terang

Melilin kau di kegelapan

Sinsogergaji berlomba menggundul

Kau tanamsubur pepohonan

Yang setiapnya apa bisa

–Pelindung–Peluka–Pembunuh—

Pagar kayu itu kau

Dengan indahnya kebun hati

Salam hormat untuk seorang sobat  Muntoha S.Pd,I

di tengah kemungkinannya menjadi penguasa ia berkorban menjadi guru

Berdustalah Nak

 

Pengakuannya ulang tahu ke enam puluh dua dalam selembar undanganyang kuterima. Siang itu setelah hantam kuhormati tiangdemam dengan dua warna lusuh yang mati kerna air. Muka kust melangkahkan kaki pulang rumahku. Sabuk welcome bapak menyambut.

“Kusam kali muka kau nak. Di kemana jiwa mudamu”

Laksana Sukarno muda suara bapak menggema.

!!!Katakan aku Indonesia

!!!Katakan aku cinta Indonesia

!!!Katakan darah juangku Indonesia

!!!Katakan kuhidupmati Indonesia

!!!Katakan aku bangga Indonesia

Terdesak Tenggorokan laun lidah kutanyakan untuk apa

“katakan saja dengan lantang nak”

Kelak kucari apa sebab.

Kita Bukan Babi

Seberapa tebalkah uang yang menutupi mata kita

Sehingga kita tak lagi bisa melihat penindasan yang nyata

Atau seberapa dalamkah ia masuk ke dalam telinga kita

Sehingga kita tak lagi mendengar meninggalnya tetangga kerna dilaparkan

Atau justru ia telah menjadi pakaian baja bagi kita

Sehingga kita tak lagi bisa berbuat sebakteri kebenaran

Setiap Kita Masalah

 

Ke mana pun kau langkah

Cobaan itu pasti kau temui

Jalan Besar Gang-Gang 

Tikungan Tol Perempatan

Setiapnya Masalah

Kembali pulang bukan solusi

Teruslah Melangkah dan Melangkah Teruslah

dengan Alas Kaki Iman Pakaian Hati

Mata Akal jangan kau Butakan

agar mampu Melihat Menghidar

memperbaiki duri lubang halangan rintangan

Terlahir kita sebagai pemenang bukan pecundang

Jauhkan getar musnahkan takut

Tak peduli itu mati

Kerna kita tak punya tempat sembunyi darinya

Bahkan ikanpun tak bisa hidup tenang

walau tak ada kucing dalam laut

Mandul atau Selingkuh

 

 

Bapak Pertiwiku 

Tak bosankah kau melihatku dalam kesendirian

Tanpa kakak, tanpa adik

Bapak Pertiwiku

Tak jemukah kau melihat aku merenung

Tanpa tawa tanpa canda?

Bapak Pertiwiku

Kenapa kau namakan aku duka

Tanpa suka

Bapak Pertiwiku

Berikan aku adik kebahagiaan walau hanya satu

Bapak pertiwiku

Apakah kau sudah tua

Sudah tidak kuat lagi

Atau kau memang sudah mandul?

Tapi kenapa setengah abad lebih sudah

Ibu pertiwiku mengandung kebahagiaan Berupa timah, emas, gas, minyak, batu bara,

Dan masih banyak lagi adik kebahagiaanku

Yang berada dalam perutnya

Tapi mengapa ia tak jua melahirkan

Apa karena ibu pertiwiku selingkuh

Sehingga adik-adik kebahagianku

Dibawa lari bapak tiri pertiwiku

Jawab Bapak!!!

Bukan “Penertiban”

 

 

Negeri ini butuh keindahan 

tanpa ada nada sumbang

tanpa ada deretan rumah kumuh

tanpa ada perpindahan barang yang tak sah

Sisi wajib yang belum tertunai

rakyat sejahtera makmur sentosa.

Penggusuran dan “penertiban” bukan jawaban

Negeri ini butuh kedamain

tanpa ada   demontrasi

tanpa ada debat kusir

tanpa ada menyalahkan

Kemajuan bangsa tetap tuntutan

bukan boneka bukan penjajah

Tetap gagah “Penertiban” bukan jawaban.

Kaya kita akan buah

bukan hanya simalakama

Demi perjanjian setan

selalu rakyat dikorbankan

Bilakah kan melawan

 

 

Buruh

Kau adalah pahlawan dari berdiri kokohnya sekolah

Majunya pabrik-pabrik juga kau pahlawannya

Kau juga pahlawan devisa bagi negeri ini

Kau adalah pahlawan bagi putra-putrimu

Yang penuh dengan kesulitan mengenyam dunia pendidikan

juga kau pahlawan dengan hari-hari yang dihantui pemecatan

kau pulalah pahlawan yang pergi dengan terbang tinggi

dan kembali dengan peti mati

kau adalah pahlawan sejati

kau adalah pahlawan yang mulia

kau adalah pahlawan tanpa apa-apa

Kau megahkan gedung pemerintahan

Tapi kau tak pernah dapat pilihan untuk memerintah negeri ini

Kau kokohkan tempat berlindung

Tapi untuk sekedar melepas lelah pun tak bisa kau peroleh

Kau bangun gedung sekolahan

Tapi bangku untuk anakmu pun tak mampu kau dapatkan

Apakah  selamanya  kau  akan  menjadi  sang  pembangun

yang terus dirobohkan

Petani

 

 

 

Tak malukah kau

Setiap hari berkelahi dengan matahari

Memenangi peperangan menjemput pagi

Tak malukah kau

Setiap hari dikalahkan rembulan menamu sunyi menyambut malam

Namun sayang mereka tak pernah malu Menyiksamu

Menindasmu

Memperkosa hak-hak mu

Apakah selamanya

Kau akan menjadi sang pemberi makan yang dilaparkan

Terasa Nggak Usah

kalau Dokter memberikan obat untuk kita dapat penyakit baru

sedangkan Guru memberikan ilmu agar kita bodoh

lalu Hakim menegakkan hukum rimba

apakah kita butuh Orang Gila

Supaya kita bisa berpikir sehat

Renungan Siang Bolong

Ibu Pertiwi melahirkan jutaan sarjana pertahunnya

lalu apa yang kita dapatkan?

Apakah ekonomi kita membaik

dengan lahirnya para ekonom baru

Atau sarjana pendidikan kita

sudah mampu melenyapkan kebodohan di negeri ini

Sudahkah  hukum negara ini berdiri tegak

dengan ketegasan dan kejujuran para hakimnya

MUHAMMAD I LOVE YOU 

 

 

Ya Allah tuhan yang maha bijak 

Dengan segala kerendahan hati hamba hendak bertanya Tentang mahluk spesial utusanMu  Muhammad namanya

Kenapa gelar nabi dan rasul kau lekatkan pada dirinya? Padahal dia bodoh tak bisa baca, tak bisa tulis

Apa karena dia memiliki semangat belajar

untuk melawan kebodohannya?

Lalu kenapa kau utus dia pada waktu itu

lewat rahim Aminah di Mekkah

Tidak sekarang, di sini, lewat rahim ibu pertiwi?

Kenapa Allah?

Apa karena penindasan terbesar dari awal masa ada di sana?

Allahku

tak tergiurkah kau untuk mentransfer

Nabi-NabiMu lagi atau sejenisnya

Atau kau akan membiarkan kami tawuran melawan sejarah hingga akhir detik nanti

Pemenang Sejati

Hidup Suka Tawa Kaya Baik Bicara Bising Sehat Damai

Mati Duka Tangis Miskin Jahat Diam Sepi Sakit  Perang

Telah berlalu………….

Dan aku telah melaluinya

Mati Duka Tangis Miskin Jahat Diam Sepi Sakit Perang Hidup Suka Tawa Kaya Baik Bicara Bising Sehat Damai Tengah berlalu……….

Dan aku tengah melaluinya

Hidup Mati Suka Duka Tawa Tangis Kaya Miskin Baik Jahat Bicara  Diam  bising  Sepi Sehat Sakit Damai  Perang

Akan berlalu………

Dan aku akan melaluinya

Sejarah pasti berulang

Hanya pelawan zaman yang keluar sebagai pemenang

 

Rindu Hati

Kurindu waktu itu

Waktu saat bumi tak berputar

Ku rindu melodi recehan asap dan cairan gelap

Berbagi cucu api di selangkangan jari

Uraturat leher-kepalantangan-kranairmata

Sesak tanah diskusi Jeritan negeri

UIN-UGM saksijenuh

Shaf-shaf lesehanliar

Nyanyian polos

Bukan koruptor bukan buronan

Demi selebaran hati

Poster kejujuran

Spanduk perlawanan

Deret jemuran tak peduli

Hebat mentari bukanlah bulan

Tersempit Malioboro

Mikrofon parau

Baut lutut lepas

Hujan keringat tak terelak

Suara terbentur salu

Buta-tuli-bisu-bengal

Taring panjang-perut lapar Itu mereka

Para kawan aku rindu

Deal radikal gorengan-surat kabar

Ampas sisa berseduh-seduh

Buku pena ejek tawa

Berterbang khayal berkarya indah

Mimpi seram itu nyata

Gerakan hari ini

Tak ubahnya buih-buih deterjen

Surat-surat pak pos

Aktor-aktor media

Imperialisme-Peodalisme masih mengakar

Demokrasi semakin abadi dalam mimpi

REVOLUSI telat hatam

KawanKurinduKau

Masihkah ganas gelombang perlawanan

Mati Belum Hidup

 

 

INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI ROJI‟UN

Diharapkan kepada seluruh rakyat Indonesia

Untuk menurunkan bendera setengah tiang

Karena tahun ini

bulan ini

minggu ini

jam ini

menit ini

dan

detik ini

Telah meninggal dunia keadilan yang tak pernah lahir

Dan semoga kematiannya

Diikuti Keserakahan, Kemunafikan, Pembunuhan, Terorisme

Peselingkuhan dengan modal asing

Pendidikan yang mahal

Guru yang bodoh, dokter yang sakit

Hakim yang melanggar hukum

Pejabat yang jahat, aparat yang keparat

Dan semoga kematiannya diikuti pula oleh segala bentuk dan

jenis Penindasan yang lainnya.

(Amieeen) 

 

NEGERI DEWA MAFIA

 

 

 

 

Negeri apa ini 

Negeri yang kehilangan bintang saat malam datang

Negeri yang tak bermatahari pada siang hari

Negeri yang gelap gulita

Negeri yang ngeri

Di sini kepala batu sangat dihargai

Di sini semua orang bisa menjadi dewa

Tak ada salah tak ada hukuman

Hanya dengan satu syarat (seragam)

Semua orang dilumuri semangat yang meruih-ruih

Untuk berlomba menuju kemuliaan

Kemuliaan para dewa mafia

Mafialah dewa negeri ngeri ini

Para anjing para babi para buaya

Tak pernah berhenti berjuang Untuk melengserkan para tikus Yang terlebih dulu berkuasa

dengan mewahnya seragam dewa

musnah sudah rumus segan bagi mereka

untuk mengusir menyingkirkan bahkan membunuh

yang mereka anggap saingan

walaupun itu hanya cicak bahkan semut tak berseragam

 

Judulnya Kapan-Kafan

Kami bangga berindonesia

Guru bermatabat

Buruh sejahtera

Petani bahagia

Koruptor tobat

Wakil rakyat merakyat

Pelajar ter

Prestasi abadi

Kemajuan kiblat dunia

Marjinal tak di kaum

Miskin musnah

Pemimpin bukan wayang

Hakim tak kebal hukum

Aparat tidak keparat

Merdeka benar merdeka

Kami bangga berindonesia

HAKORLEN

 

Hijaunya mendamai hati

Sepoi penyejuk jiwa

Santai menyantaikan

Tertanam dalam demi hidup kehidupan

Saatnya tiba

Di mana ia tumbuh dewasa

Gagah tapi tunduk

Menguning tanda siap

Semangat nafsu meng-aku

Ingin kujadikannya korban lapar

Setiap nyawa melarangku

Menghantam menghakimku

Kerna ia tetaplah ia

Padi tetanggaku

MUAK

Berita mati kata

Yang hidup itu-itu saja

Kecilnya dunia kita

Ukiran-ukiran kertas lebar

Gerakan-gerakan cahya lentik

Satu nada berjuta irama

Korupsi lagi

Fitnah lagi

Bencana lagi

Janji lagi

Tawuran lagi

Perang lagi

Kemunafikan lagi

Kelaparan lagi

Pembantaian lagi

Pembunuhan lagi

Penipuan lagi

Pemerkosaan lagi

Penertiban lagi

Penggusuran lagi

Lagi lagi lagi

Lagi gila lagi

Aku rindu sebuah berita-berita indah

Ingin kudengar jama’ah koruptoriyah

Berlomba-lomba gantung diri

Tapi Kapan???

Mbah Ganas Priok

 

 

Jakarta berapi-api 

Samudera pendiam di tepi

Semangat juang, semangat serang entah sapa.

Teriak Tuhan demi pahlawan

Jama‟ah pasukan berlawan

Korban kebijakan yang tak pernah bijak

Menjelma boneka kejam, buta menghantam

Tak hirau mati demi kursi.

Ratusan roda menganga berbakar

Butiran air dari mata dan raga

Kerna menangnya kalah

Sang salah berselimut takut

Membungkus perih dengan janji manis

Yang selalu hadir di akhir kisah.

Hotel sakit dipenuhi tubuh luka

Bahkan ada alpa nyawa.

Kemurkaan telah menulang

Utang dendam semoga tak terbayar

Muak!!!

 

Bukannya Hamba Lancang

 

 

 

Kalau kaya tak bisa membuat kami bahagia

Maka miskinkanlah kami

Kalau kenyang tak bisa membuat kami senang

Maka laparkanlah kami

Kalau jaya tak bisa membuat kami sejahtera

Maka gagalkanlah kami

Kalau sehat tak bisa membuat kami selamat

Maka sakitlah kami

Tuhan……………..

Bahagiakanlah   kami

Senangkanlah    kami

Sejahterakanlah kami

Selamatkanlah   kami

Walau harus dengan kematian

Korban Kebijakan

 

 

Terduduk aku di sudut desa

Di bawah garda selamat datang, jalan

Berkeroyok para sobat se-aku

Dikencani botol bening sebatang sumber nada

Tawa, suka, duka, teriak, malu kami nyanyikan

Sore itu cuaca abu-abu

Takkan henti sebelum hitam kerna janji

Nada sumbang teruskan nyanyian kami

Jerit teriak absen celah

Hingga peluh mengotori busana kumel

Dari ujung sana terlihat jelas si gagah bermobil megah

Membawa para anjing gonggong menyalak

Tawanan babi terikat tanpa daya

Keberhasilan berburu katanya

Malam ini bertaruh nyawa demi rupiah,

Tuan Esoknya latih gigit tahan pukul

Sorenya seperti ini lagi

Kasihan kami binatang

Penuh otot, kosong otak

Harus sampai kapan para anjing itu sadar

Bahwa mereka dijajah tuannya

Sadar pun mereka tak bisa apa

Tawa jijik si tuan

Gula yang Asin

 

 

Tingginya gunung, dalamnya laut

Besarnya dunia serta jumlah yang tak ada batasnya

Tak dapat mengalahkan rasa syukurku padaMu

Kau telah mengaruniai kami pemimpin teladan

Pemimpin yang merakyat

Pemimpin yang rela lapar demi kenyang rakyatnya

Detik-detik yang kami lewati penuh dengan kebahagiaan Kesejahteraan dan rasa damai

Telah mendarah daging dalam tubuh kami

Sekarang pendidikan tak lagi mahal

Kemiskinan dan kebodohan telah musnah

Tak ada lagi sakit yang mampir pada kami

Terorisme terkubur dalam

Curi-mati penggusuran tergusur

Semua dunia berebut nyantri ke negara kami

Semua kebanggan ini muncul

Kerna hebatnya pemimpin kami

Terima kasih

Terima kasih tuhan

Kalaupun kau menguji kami dengan seribu tahun kemarau

Kami takkan susah, takkan geisah

Kerna para pemimpin kami dengan sigap menyediakan limpahan air

Air yang membasuh segar raga kami

Byurrrrrrr…

“Nak, nak… bangun….

hari sudah jam dua belas siang…”

SENYUM TUHAN TIDAK DISINI (JILID DUA)

Tuhan

Aku tak lihat senyum kau

Ketika luka terkucur dari kulit pertiwi

yang memang sudah lama borok

Tuhan kau indah

Atas nama keindahan pula

Jutaan pemburu sesuap nasi tergusur

Damai itu kau Tuhan

Rotan dalmas gas airmata peluru karet

Sangat akrab bagi mereka pencari damai negeri

Damai sejati damai perut damai hati

Jangan tutup hidung kau Tuhan

Walau ku tau miskin itu bau

Tuhan kalau penguasa bengis takdir kau

Maka cabutlah!!!

Kami telah muak

Tuhan, senyumlah dikit

Kusam kali muka kau

Harta Tahta dan Wanita

Kita membunuh karenanya

Kita menipu karenanya

Kita memperkosa karenanya

Kita menindas karenanya

Kita senyum karenanya

Kita menangis karenanya

Kita melacur karenanya

Kita bernyanyi karenanya

Kita amar mungkar karenanya

Kita nahi ma‟ruf karenanya

Kita meracuni karenanya

Kita berjudi karenanya

Kita akting karenanya

Kita mengajar karenanya

Kita ceramah karenanya

Kita diskusi karenanya

Kita belanja karenanya

Kita olahraga karenanya

Kita membaca karenanya

Seakan terlupa kita datang tanpanya

Dan kembali kepadaNya tanpanya

Kecuali rapor amal hitam dan merahnya

Mereka Itu Kita

 

 

 

Mata panas di kepala

Tiga cahya pengatur laju

Barisan tua tali nada

Sobat jenuh anak terkarya

Di belakangnya kesibukan si harta

Dalam indah tingkatan ruang

Memilih hambur calon pengontrak perut

Di bawahnya pilahan sisa

Sedarah Anak

Mewah megah bangunan

Roboh terlongsorkan

Devisa pecundangnya

Janji surga enam bulan kerja

Belum tiba jemput PHK

Pelawan mentari

Pemberontak bulan

Penumbuh hidup, mati Beri makan, lapar

Mahakarya tak bernilai

 

Ngerie soeboer ra‟jat hantjoer

Penuh makanan tak bisa makan

Penuh air tapi haus

Mahal, bukan nyawa

Pak pasal lupa utjapan

hidup kita bernegara

Pemerintahlah penanggungnya

Kita hidup bersodara

DUKA MEREKA, DUKA KITA

Qomrodhiyyah

 

Tulang-tulangku menyesak

Memisau tajam

Menusuk jantung hati

Mematikan mayatku

Padahal se pun belum terlangkah

Tujuan kita masih jauh

Jangan cabut baterai waktu

Mari rangkul gandengan tangan

Hentakkan kaki seperti dulu

Aku mengangkang dalam doa

Membangkitkan kelamin cita-cita

Berharap kelimaks persahabatan kembali

Tak mau lagi anak-anak putus asa ku dapat

Kerna aku bersetubuh dengan kesadaran

Kawan

Aku tak lagi menelan kotoran setan kencingan iblis

Lawan!!!

Kalau memang miskin menggembleng kita

Menuju rajin

Lalu kere menuntun kita

Ke arah kreatif

Kemudian krisis mengasah otak kita

Agar berpikir kritis

Apakah selamanya kita harus berada dalam lingkarannya?

 

Pahala Taikan

 

 

Secuil tangan itu banyak

Melebarkan jari-jarinya ke semua jari

Katanya belum bertemu nasi

Dari pagi hingga pagi ini

Kutatap kusut muka yang sama

Di kereta dan di kota-kota

Tali erat di perut

Berharap kenyang datang bertamu

Tangan-tangan mungil melapang luas

Dengan kencingan di tangan

Serak parau jerit petriwi

Nada lapar yang garang

Pakaian apek habis perang

Tengorokan-tenggorokan kemarau

Mulut-mulut masam amis

Kelus kaki tak beralas

Mahkota angkuh di petir

Banjir di kuping gempa di mata

Bernisan cantik sepenggal hati

Kapankah dosa turunan ini tertaikkan

Jangan Lethoy Garudaku

Kalau matamu sudah tajam

Telinga dan lidahmu sudah peka kembali

Sayapmu sudah tak lagi patah

Rontoknya bulumu sudah tiada

Kakimu sudah kokoh berdiri

 

Maka terbanglah

Terbang tinggilah garudaku

Terbanglah kau setinggi mungkin

 

Inilah harapan kami

Inilah titah kami

Alumunium SH.I

                    

 

 

 

Mencari damai dalam ramai

Teriakan mesin tak sekuat putaran paku

Menduniakan dunia

Penuh pecahan kaca

Kapan saja bisa meluka

Menusuk memotong membelah

Demi rupiah perjalanan napas

Ucap sedikit mendapat banyak

Penantian yang melelahkan

Demi masa demi massa

Nikmat si hitam merah berawan

Barisan gunung indah belum terasa

Pilihan aneh korban toga

Saat dunia berebut tahta

Menyelam ia dalam usaha

Tak sudi jual agama

Salam hormat teruntuk sang sobat Maslan SH.I

Di Sini

 

 

 

para penganut dusta sejarah telah mati hati

mencoba merakyat membumi di anggap gila

dunia telah kehilangan cermin

memalaikat di bilang sok

memblis bangga

cuekisme dewa

 

Puisi Woi Runcing

 

Aku berada di negeri yang aku tak mau 

Negeri di mana kepala dan kaki bersatu menjauh

Negeri yang terang benderang tanpa cahya

Negeri yang kaya raya tak berharta

Negeri yang beruah kebun tidak berbuah

Negeri yang sejuk bersepoi-sepoi penuh api

Negeri yang kubenci murni

Negeri seram ini harus ditinggal

Tapi kewajiban akan perubahan belum tertunai

Takkan atau belum tak berjawab

Padahal sebakteri itu terasa pahit ditelan

Ingin dimuntah haram jaddah

Hasrat berucap selamat tinggal

Birahi mengujar selamat jalan

Nafsuku penuh mau tapi hati tak mampu

Woi, kau yang di sana

Kau yang berdiri tegak di atasku

Berdiri tegar dengan kesombonganmu

Berdiri kokoh dengan keangkuhanmu

Berdiri gagah dengan kerakusanmu

Turun kau!!!

Matikan saja mata lidah mulut telinga kau

Tapi suburkan tanaman indah dalam hati

Lalu ratap usap luka airmata mereka

Jutaan bocah tak sekolah

Jutaan buruh diPHK

Jutaan petani yang ditikam tajam harga pupuk

Jutaan pengemis hasil ciptaan kau

Woi

kami telah muak dengan semua ini

Jangan runcing lagi amarah mesiu dan darah

Senjata kami baru puisi–mikrofon–spanduk—selebaran

Maka sadar, ubahlah!!!

 

 

Musuh Kita Sama

Kawan kurasa kita tak buta

kenapa penindasan itu tak terlihat.

Kawan kurasa kita tak tuli

kenapa tak kita dengar jerit tangisan itu.

Kawan kurasa kita tak bisu

kenapa tak terucap kata perlawanan.

Kawan kurasa kita berotak

tak sadar dibodoh kita. Kenapa?

Musuh kita sama kawan

Terkuras habis kita punya tenaga

Perang Idiologi

Adu konsep

Debat air

Tujuan kita sama kawan

Jangan perdebat lagi jalan itu

Jangan permasalahkan lagi gang itu

Mari melangkah bersama

Aku Bangga Kawan 

Inilah Negeri Rongsokan*

Tulisan yang selalu kubaca

Ketika buang sampah

Aku tertawa geli penuh murka

Hah… ada-ada saja kawan

Tapi kau tak dusta

Kerna ibu pertiwi tertunus

Belati Itu>

Terluka hampir mampus

Oleh anak-anaknya yang berhati karatan

——————–

*judul buku karya M Azhari AF

>judul puisi WS

BUKAN ISLAM 

 

Semoga mataku salah ketika kulihat Rombongan peciawan lengkap dengan alat pembunuh sedang latihan

Sebuah gerak gambar yang muncul di tipi-tipi

merekam jejak pelaku bom keji tadi pagi

Lalu satu/satu dengan penuh semangat mereka berkata

“Ini adalah jihad yang wajib dari Islam”

Kurang lebih inilah inti yang kutangkap

Padahal Islam cinta damai

Selalu menghormati setiap ruh yang tertiup

Aku juga menonton pilem yang hampir setiap malam

ibuku menangis kernanya

Aku melihat aktris cantik

yang kebetulan di sinetron ini berjilbab

Mencium tangan dicerita sebagai suami

yang kemudian mencium keningnya

Padahal aku tau betul bahwa mereka bukan mahrom

Lalu ada tante sedang menaruh racun kedalam gelas

lagi-lagi masih di dalam ini

Kemudian aku menyuruh adik untuk berhenti menonton, malah ia berujar

“di bulan puasa pilemnya makin seru, itung-itung nunggu taraweh”

Aku hanya berpesan kepada adik tersayangku yang baru naik kelas tiga esde

“dik…ini pilem islami tapi tidak Islam”

Esoknya kusaksikan duyunan orang ke selatan laut

di pulau sana

Membawa makanan-makanan enak di atas dulang

hanya untuk dibuang

Dengan tenang seperti tanpa dosa

dalam wawancara seorang ”berkata”

“ini bentuk sukur kami,menyambut hari Nuzulul Qur’an dan menolak bala”

Padahal sebelum memubazirkan makanan itu

segala Allah dibawa-bawa,tempat sewajibnya kita meminta

anehnya lagi, dua bulan lalu di depan sebuah gedung mereka teriak “KAMI LAPAR”

Aku masih ingat betul kerna aku tergolong didalamnya

Islam seakan menjadi busana indah

Penutup borok si pengguna

Hingga penulispun memakai

Yang akupun tak yakin kan keIslamannya

Hheh…

Bila pintu surga telah terbuka untuk umum maka dengan dahsyat KTP-KTP itu memasukinya

 

 

Ghayyir!!!

Terlalu lama sudah

Negeri ini bersetubuh dengan bencana

Halilintar Kebodohan

Badai kemiskinan

Banjir tangisan

Tsunami jeritan

Gempa amarah

Tak bisakah dicegah

Tak mampukah merubah

Tinggi ilmu buat nipu

Kekuatan melemahkan

Kaya harta miskin hati

Sodaraku…

Indera kita hidup kenapa diam

Apa kerna kilauan harta mata silau

Apa kerna pengeras suara pengurang dengar

Apa kerna enak rasa beku lidah

Sodaraku…

Kita ummat Satu

Kita kaum

Mari kita ghayyir semua ini

Maaf Guru, Ampun Tuhan

Guru, malam itu aku menghentikansukur akan bulan bintang

Kerna asikku gemerlap lampu

Melupakan sejenak luasnya dunya

Lantunan-lantunan merdu ayat-ayat Tuhan

yang dulu kau lontar

Tak lagi menggiurkan

Kalah sama desahan biduwan-biduwan waw

Dzikir tahlil energik jiwa raga isya sampai subuh

Terputus rekor

Angguk geleng loncatanku

Damai idaman kau ku langgar

Khilaf pesan sadar

Tapi tenang guru

Kau tak pernah kulibat dalam setiap dosaku

Yakinku

Pak mari musyawarah desa

Banyak informasi baru

….. AH

Bung mari turun ke jalan

Bukti bahwa kita pasti bias

….. AH

Kawan ke TPS yuk

Pemilihan umum telah memanggil kita

….. AH

Kuyakin betul bahwa mereka punya alasan kuat

Kenapa putus asa ini mengalir deras

Tapi ku lebih yakin bahwa

Perubahan adalah ijab Kabul kita dengan tuhan^

—————

Penggalan tulisan karya Irwan Bajang

Entah

Kawan, entah kenapa

Aku paling benci dengan kata-kata berikut ini:

Guru pahlawan tanpa tanda jasa

Gizi buruk

Saya difitnah saya didzalimi

Penertiban

Demi hukum

Gemah ripah lok jenawi

Orang pakir dan miskin di pelihara oleh Negara

Wajib belajar 9 tahun

Kalau kau tau jawab kenapaku

Tolong ketik di dinding pesbuk

 

 

Ibu Tiriku Pincang

Apa kabar ibu kota?

Kurasa adamu sehat

Terlihat jelas sehatnya kau

Dalam balutan senyummu  yang manis

Indahnya matamu, berserinya wajahmu

Kala memandang istana megah

Gedung-gedung mewah

Kampus-kampus istimewa

Dan masih banyak tempat-tempat yang wah lainnya

Sehat kau ibu kota?

Jakarta… takkah kau lihat dibalik itu semua

Para anak kecil tak bersekolah

Perang melawan mentari

Menjual Koran demi sesuap nasi

Ibukota… tak mendengarkah kau

Tangisan bayi sepanjang hari

Karena tak punya susu pengganti ASI

Jakarta Ibukotaku sudah tak pekakah hatimu

Merasakan jerit tangis mereka kerna ulahmu

Jakarta… butakah kau

Ibukota… tulikah kau

Jakarta Ibukotaku… apakah hatimu sudah mati???

 

PENAKU PERNAH PATAH

Seperti tanpa isi pena ini

Berat tak sanggup ku angkat

Tak mampu menulis apa

Barang setetes

Harimau yang dulu takut padaku kini kutakut pada kucing

Entah setan apa yang merasukiku

Menyamakanku dengan Mereka-MusuhMusuhKu

Tinta bak tsunami menghantam deras

Terukir garang katakata Perlawanan R E V O L U S I

Adalah sisa hujan di atas genteng

Enggan membumi dilumat mentari

Darah citacita terhempas rupiah

Aku takut, menggigil, ciut, Pecundang

Tak lihat bunga subur depan mata

Indah lebihi moncong senjata

BungaBunga itu sedarahku

Sungguh aku tak mau mati hari ini

Selama penindasan masih hidup

Salah yang kupilih

Menanak peluru untuk kutelan

Tak akan kuulangi

Semoga

Kini kuukir kembali kata yang pernah pergi

Mesiu untuk pengsihap darah rakyatku

BAHKAN KETIKA DIAM AKU TAK MAMPU KAU BUNGKAM

……………………………………………………………………

………………

TERIMA KASIH BUNGA YANG LURUS

GURUKU

berita ni ukan fitnah

jalan rusek-darat dak karuan-laut la dak jelas warna e-selain pendidikan aut2an minat e pun dikit-lum agik akses kesehatan yg dipersulit-eksekutif e dak tau ape isik utek e-legislatif lbih hobi jalan2 ketimbang denger curhat rakyat e-yudikatif agik cerita lame-rakyat e yg peduli dibilang sok n penuh kepentingan-yang dak peduli e bejubel2 along ngurus uto ketimbang nasi tetangga yg kemalingan.

ku dak bebulak heperadik…men dak pecaye , yo kite diskusi hambil ngupi….

Maaf guru,ampun tuhan.

Guru, malam itu aku menghentikansukur akan bulan bintang

Kerna asikku gemerlap lampu

Melupakan sejenak luasnya dunya

Lantunan-lantunan merdu ayat-ayat Tuhan yang dulu kau lontar

Tak lagi menggiurkan

Kalah sama desahan biduwan-biduwan waw

Dzikir tahlil energik jiwa raga isya sampai subuh

Terputus rekor

Angguk geleng loncatanku

Damai idaman kau ku langgar

Khilaf pesan sadar

Tapi tenang guru

Kau tak pernah kulibat dalam setiap dosaku

SENYUM TUHAN TIDAK DISINI

Undang-undang kita indah

Keputusan-keputusan yang wah

Peraturan-peraturan mulia

Namun sayang AMNESIA

Negeri yang dikuasai para pelacur

Ngentot dengan freeport

Ngelaharin 75% rakyat papua di bawah garis dimiskinkan

Zina dengan PT Timah

Ribuan anak banjir ke langit menganga

Naikin libido dengan Lapindo

Meraja lumpur di sidoarjo

Penguasa negeri yang ngeri ini

Hamba sex bank dunia

Penyembah setia sholat utang

Alasan manis dari sebuah ketidak majuan

Negara berkembang dengan kemunduran yang termundur

Berselingkuh dengan modal iblis

Selalu melahirkan kebijakan-kebijakan yang tak pernah bijak

Kerna setiap perjanjian setan selalu rakyat yang jadi korban

Negeri yang kaya dengan investasi juta’an tragedi

Udara demokrasi penuh polusi

Mereka yang sering nongol di tipi-tipi di koran-koran

Cuman bisa bohong,kalau jujur dana kampanye-sogokan takkan lunas

Tak usah kau baca lagi data di atas kertas

Bersetubuhlah dengan relitas

sedarah dengan kelas buruh,tani,kaum dimiskinkan,kaum pekerja

kerna ku yakin ukiran mereka salah

kalau yakinku salah

potong kontolku

inilah gayaku inilah karyaku

yang tak bisa menyuburkan kebun kata

puisi jalanan anak kandung penindasan

tak suka kau dengan puisiku?

Lantas,mau kau bakar?

Ku harap jangan,kerna puisiku bukan sampah

Melainkan mesiu,(mari diskusi,laksanakan!!!)

CERMIN UNTUK DEVTRA

Sekarma apapun kau buat pasti kau dapat

Hormati orang tanpa harus mengemis penghormatan

Sekecil apapun penghargaan kau terhadap karya orang lain

Maka karya kau akan dihargai

Akui karya orang maka karya kau diakui

Kau tak lebih dari seekor semut

Maka jangan membakterikan karya orang yang mungkin lebih bergajah

Apa yang kau lihat terkadang menipu, devtra

Hargai guru walau sedebu ilmu

Intropeksi jalan tol menuju impian

Kau itu abu rokok

Jangan merasa hebat klo hanya bisa mengkritik

Lihat orang seutuhnya

Berbeda dengan kau, tak berarti dia lebih rendah

Orang-orang besar, besar karena menghargai kecil

kau Kira kau siapa???

Devtra, kau lebih hina dari apa yang kau kira hina

Cita-cita kau banyak

Perjalanan masih panjang, mungkin

Ikhlas berkarya maka kau akan dipamerkan

Klo cuman pujian yang kau harap

Puji terus apa yang kau karya dan jangan di bilangin ke orang lain, selesai toh???

Cemoohan paling hanya kau peroleh dari seratus orang, atau mungkin lebih

Tapi jangan kau jadikan semua itu tembok buntu

Percaya diri aja devtra

Tetap Semangat

Devtra, jangan sok!!!

Beli cermin kalau tak punya

Kalau kau bener-bener bercermin dan merubah

Yakinlah takdir wujud impian kau dapat

selamat bersenang-senang guru

Meninggal Fana Menuju Jannah

Yang tercinta KH. Irfan Hielmy

Allahku

ku ikhlaskan tenaga dan separuh usiaku kau bagikan untuk guru para umatMu

klo kau ridho cabutlah nyawaku lalu berikan sisa jatah hak hidupku untuknya

terlambatkah du’a ini

atau mungkin memang tak berjawab

cinta kami padanya memang tak sebesar cintaMu

juta’an airmata darah takkan mengadakan ketidakadaannya

tapi ketiadaannya takkan pernah ada dalam hati kami

dialah kunci pembuka pintu-pintu ilmu para santri

ilmu yang salu penjaga agamaMu pemati virus iblis

Allahku

Ridhakanlah surgaMU, Anbiya’, bidadari-bidadari menjamunya

Sebagaimana keridhaan langit bumi matahari planet-planet bersenyum untuknya

Walau masih dalam semesta amin kami

Sampaikan ayat-ayatMu, kado du’a terindah dari kami

ragahari

aku tak malu lagi kerna matahari telah buta tak lihat ku telanjang

untuk apa ku malu dengan bau kalau hidunghari tak cium

tawatawaku buruk tapi ku tak malu bila kupinghari itu tuli

hinaan gerakku tak berucap kerna muluthari bisu

matiku pun tetap begini di aspal harihari

cinta suci asap ganja

Langit bumi terus berlari

tapi tak secepat hatiku

terlambat salu menuju tali akhir

malam terlelap bedengkur sunyi

mengusik mimpi yang belum tidur

gubuk abu menggunung mengencani harapan

shaf penenang jiwa berantakan dalam bungkusan merah

berton-ton menyeret kaki

perlawanan suci sepotong nyawa

melangkah lamban dibawah kucuran wudhu’

demi dua rakaat rayuan

mengemis syafa’atNya untuk kau

zikir-zikir cinta terus terlafadz

dalam balutan kerinduan

menembus hijab jarak dan masa

kertas curahan terlalu penuh

penantian panjang melelahkan

sepenggal raga tak ber apa

bab malam hampir hatam

hingga terikan rombongan sijantan datang

dan cahaya panas menghampiriku

seolah mengejek diri

biarlah…biarlah…biarlah…

ku biarkan ketertawaan mereka

kerna tsunamipun bak kopi dingin

tak mampu menggoyahkan keyakinan cintaku

cintaku kepadamu cintaku

ikhlas tulus suci lahir diatas awan putih

aku tak tahu kenapa,ia terjadi sendirinya

aku hanya menyadari bahwa ia memang ada

aku hanya ingin mencintaimu

seperti bakaran ganja di atas asbak

jama’ah burung telah bernyanyi

aku terus berzikir dan berzikir terus

berzikir cinta cinta cinta…

sex harapan

semua orang mengangkang dalam doa

membangkitkan kelamin-kelamin harapan

seraya bermimpi kelimaknya datang

akan mampu membungkam kobaran gema mulutku

tapi anak-anak putus asalah yang di dapat

walau terlambat mereka bersetubuh dengan kesadaran

bahwa diapun tak mampu

dimanakah kau kini penelan tai-tai setan

kencingan iblis??

Mulailah

Mari buka mata dan telinga kita

Sucikan hati jauhi emosi

Kepalkan tangan Satukan jiwa

Rapatkan barisan Demi satu tujuan

Untuk cemerlangnya hari depan

REPUBLIK JONGKOK

REPUBLIK JONGKOK REPUBLIK JONGKOK Antologi Puisi Komunitas Sastra Kopi Pahit Devtra Mayday Wiwin Solikhin Erwin Syahputra Republik Jongkok Antologi Puisi Komunitas Sastra Kopi Pahit Hak Cipta pada Pengarang Pra Cetak: Cindy Pranata Desain Cover: Wawan Solekhan Editor TIM DJ Media Diterbitkan oleh Detak Jantung Media Sapen GK 1/355 Yogyakarta Email: Detakjantung_media@yahoo.com ISBN: 978-602-96177-4-0 Siapa saja dari kamu yang melihat kemungkaran Maka ubahlah dengan tangannya Bila belum bisa, maka ubahlah dengan lisannya Dan bila masih belum bisa, maka ubahlah dengan hatinya Sesungguhnya itu adalah iman yang terlemah (Muhammad S.A.W.) Teruntuk kau yang dekat di sana Isi Buku Du’a Hari Ini ……………………………………………………………………. Ripublik Jongkok……………………………………………………………..12 Di Ngeriku……………………………………………………………………….13 Semoga Adalah Negeriku………………………………………………..14 Tak Lagi Merah Putih …………………………………………………. Mustahal …………………………………………………………………………… Diam Adalah Kebun Kedustaan …………………………………….. Dilarang Melarang …………………………………………………………. Insya ALLAH …………………………………………………………………… Sembah Yang Kuasa ………………………………………………………. Tahajud …………………………………………………………………………… Takdir …………………………………………………………………………….. Rokok …………………………………………………………………………………. Ingin Ku ………………………………………………………………………. Pak Toha Merdeka ………………………………………………………. Berdustalah Nak ………………………………………………………………. Kita Bukan Babi ……………………………………………………………….. Setiap Kita Masalah ………………………………………………………. Mandul atau Selingkuh …………………………………………………. Bukan “PENERTIBAN” …………………………………………………. BURUH ………………………………………………………………………………. PETANI ………………………………………………………………………. Terasa Nggak Usah ……………………………………………………… Renungan Siang Bolong ……………………………………………. MUHAMMAD I LOVE YOU ……………………………………………. Pemenang Sejati ………………………………………………………….. Rindu Hati ………………………………………………………………………….. Mati Belum Hidup ………………………………………………………….. NEGERI DEWA MAFIA ……………………………………………….. Judulnya Kapan-Kafan ……………………………………………….. HAKORLEM …………………………………………………………………. MUAK ……………………………………………………………………………. Mbah Ganas Priok ………………………………………………………………. Bukannya Hamba Lancang ………………………………………… Korban Kebijakan ………………………………………………………… Gula yang Asin ……………………………………………………………. SENYUM TUHAN TAK DI SINI ……………………………….. HartaTahtaWanita ……………………………………………………. MEREKA Itu KITA ……………………………………………………. Qomrodhiyyah ……………………………………………………………. Lawan ……………………………………………………………………………. Pahala Taikan …………………………………………………………………. Jangan Lethoy Garudaku ………………………………………………. ALUMUNIUM SH.I …………………………………………………….. DI SINI ………………………………………………………………………. Puisi Woi Runcing ……………………………………………………………. Musuh Kita Sama ……………………………………………………………. Aku Bangga Kawan ……………………………………………………….. BUKAN ISLAM ………………………………………………………….. Ghayyir!!! ……………………………………………………………………… Maaf Guru,Ampun Tuhan …………………………………………. Yakinku …………………………………………………………………….. Entah ………………………………………………………………………….. Ibu Tiriku Pincang ………………………………………………………… Belati Itu …………………………………………………………………….. Sampai Kapankah ……………………………………………………………….. Kawan Baru ……………………………………………………………………… Sang Lalat ………………………………………………………………………… Senandung Sederhana ………………………………………………………. Tak Ada Larangku ……………………………………………………….. PERMADANIMU …………………………………………………………….. Lalat Lagi Lalat Lagi ……………………………………………………….. Senandung Rindu ……………………………………………………………. Senandung Dengkur ……………………………………………………….. Bu ………………………………………………………………………………………… Negeri Petaka ……………………………………………………………… Menanti Mentari ………………………………………………………… Serasa Rasa ………………………………………………………………….. Terrrruntukmu Gerrrrrutuku ……………………………………….. KOTA SAKIT …………………………………………………………………. Jumawamu …………………………………………………………………….. AKHIR SEBUAH CERITA ………………………………………………… Mulailah ………………………………………………………………………. Data Penulis …………………………………………………………………… Du’a Hari Ini Oknum pemerintah : semoga tidak ada yang mengkritik kebijakanku. Oknum Polantas : mudah-mudahan banyak yang melanggar tertib lalu lintas. Koruptor Murni : lindungi aku tuhan semoga nggak ketahuan. Oknum guru : semoga kebodohan masih melekat pada otak murid-muridku. Oknum dokter : sakitkanlah penduduk sekitar sini. Oknum hakim : semoga banyak masarakat yang berkasus. Penggali kubur Tulen : semoga mereka semua MATI. Ripublik Jongkok Di sini pertaruhan nyali dan gengsi Bendera perang salu berkibar Juru penjuru temu bertempur Pantang tantang pasti datang Stadion Para pejuang Inilah republik aneh Penguasa di bawah penuh cela Tertindas di atas bermuka merah Nyanyian indah pancing amarah Hanya tongkol-tongkol bermental botol Santapan lezat para beraja Puluhan alasan yang dikeluarkan Jutaan hujatan yang didapatkan Inilah republik jongkok Tersering ada rakyatnya Dari awalan hingga akhiran tak dapat kedudukan Bertahta kaya hina Di Ngeriku Penguasa terdahulu: saya harus memimpin lagi kerna masih banyak program mulia saya yang belum sempat ditunai dan pemerintah hari ini belum mampu menyaingi keberhasilanku. Penguasa sekarang : Kepemimpinanku jauh lebih maju daripada pemerintah yang dulu Dan aku yakin semua masyarakat mencintaiku Kernanyalah akan terus kulanjutkan sampai aku mati. Nyang belum berkuasa : Mereka semua pecundang, perusak negeri Negara kita jauh lebih bisa untuk maju Kernanyalah aku harus mimpin tapi ketika terpilih maka sejarah akan terulang lagi kapan kita membuat sejarah baru??? Semoga Adalah Negeriku Adalah ini negeriku Negeri tentram rukun damai Akar kekerasan telah mati Tak ada penindasan tak ada korban Adalah ini negeriku Negeri rapi bersih suci Rapi penampilan bersih perbuatan suci hati Tak ada penipuan tak ada korupsi Adalah ini negeriku Negeri maju jaya makmur Semua rakyat bahagia Tak ada sedih tak ada duka tak ada air mata Adalah ini negeriku Negeri yang orang kuat punya kunci penjara Negeri yang tak punya alasan untuk menangkap koruptor Negeri yang penguasanya tuli bisu buta Adalah ini negeriku Negeri yang penuh Seolah-olah Negeri yang penuh Seakan-akan Negeri yang penuh Semoga-moga Tak Lagi Merah Putih Wajar saja nyalimu tak lebih besar dari seorang banci Untuk membunuh, mengusir, melawan Bahkan menegur para penjajahmu Karena merah keberanianmu Berganti warna merah jambu Wajar saja kejujuran merupakan barang langka Yang sangat teramat mahal Karena putih kesucianmu Penuh noda keserakahan dan kemunafikan Lalu sangat wajar kalau hari ini dan esok hari Kau tetaplah Buram, Gelap dan Hitam. Mustahal Aku ingin mananam bunga Tapi halamanku gersang Dengan apa ia tumbuh Bahkan jutaan penghirup udara yang termayatkanpun tak mampu menyuburkannya Diam adalah Kebun Kedustaan Kebijakan-kebijkanmu bagaikan gunung berapi Kau letakkan di atas pundak kami Yang sampai hari ini kau anggap kurcaci Lemah tak berdaya dan mati Tapi ingatanmu tanpa nada, sepi Bahwa kami bisa bersatu dan menjadi raksasa Yang akan mengangkat menghepaskan Tepat di ulu hatimu Diskusi, debat, rapatmu bak kembaran kereta api Berjalan lambat pada satu jalan rel ketidakadilan Bising, gaduh, berisik Memusingkan kepala memecahkan telinga melenyapkan hati Pikiranmu tak berubah dalam topan anggapan Bahwa kami kerikil-kerikil rel, diam membisu Tapi ingatanmu hilang Bahwa kami bisa bersatu dan menjadi batu gunung yang besar Yang bisa menghentikan lajumu Kekuasaanmu printan istana megah di hutan rimba Yang menebang habis isinya demi keindahan dan kelanggenganmu Dari ujung kaki sampai ujung rambutmu tak tergoyahkan Menganggap kami pohon perusak tak berdaya Kelupaanmu abadi dalam tsunami Bahwa akar-akar kami telah menyatu dengan tembok kekuasaanmu Yang kelak akan membesar dan merobohkannya Saudaraku… Hari ini kita menonton para pemimpin Beserta antek-anteknya sukses mengeratkan Keteguhan luar biasa Tapi keteguhan dalam perjalanan ke arah yang sesat Mereka mencoba merebut hati rakyat dengan cara demikian Tapi terlupakan oleh mereka Bahwa itulah jalan tercepat mempelancar jalan mereka menuju neraka dunia Ooiii… di manakah akhir detik ini Kalau berkuasa ingin rasanya kutarik kiamat untuk datang lebih awal Agar mengakhiri semua penderitaan ini Inilah kemustahilan yang nyata Biarlah… biarlah… Biarlah kubiarkan semua amarahku Bersemayam dalam genangan tuak Tapi ku tak bisa membiarkan luka rakyat Menginap dalam rumah puisiku Ada apa aku ini Si apa aku ini Apakah aku pemakan tanah kuburan pertiwi yang belum mati? Apakah aku si dungu pengikut penyair-penyair gila? Apakah aku Jupiter yang tak mampu menampung duka rakyat? Apakah umat Muhammad atau apa? Ada apa aku ini Sudah benarkah ocehanku ini? Hatiku dipejali dengan harapan semoga aku salah Tapi harapanku tak ubahnya angin dalam kwaci yang kosong Malam semakin menjauh tapi mataku membintang Tertuju pada sebuah buku tebal Bersampulkan burung gagah perkasa Ku buka… ku baca… ku baca… Sampai akhir halaman kami bertatapan Hingga bumi mengecil… mengecil… hilang. Rembulan dan sang surya berlomba lari Menjauh dan mendekat pada merdunya alunan musik ayam jantan Yang menggoda kuping hingga aku Terbangun dari tidur yang memang tak lelap Seakan rombongan matahari menyengat Membakar hatiku sampai mendidih sangat Kembali apa yang kubaca sebelum kumatikan mataku teringat Tentang indahnya undang-undang Alangkah wahnya keputusan-keputusan Sungguh mulianya peraturan-peraturan Elok nian kebijakan-kebijakan Otakku berputar-putar berlari-lari Berkeliling-keliling, berkejaran-kejaran Tapi pikiranku diam menggunung Ini semua untuk siapa?? Apakah untuk mereka yang bediri tegak di pinggiran jalan Menadahkan tangan sambil berkesenian Atau untuk para gadis tujuh puluh tahunan Turun dari gunung, malam jam tigaan Menukar kayu-kayu kering dengan makan Atau untuk para buruh sang pembangun yang dirobohkan Atau untuk para tani sang pemberi makan yang dilaparkan Atau untuk jutaan anak tak berpendidikan Atau untuk mereka yang selalu di telanjangi dalam bugil kemiskinan Atau hanya untuk mereka semua ini Yang asik nongkrong di atas megahnya kursi Dikelilingi seksinya para bidaduri-bidaduri Tenang tentram damai Tiap detik mencuri nasi Hatiku meruih-ruih dengan satu kata Ini adalah kemungkaran Tapi yang punya Yad semakin mengeruh Yang punya lisan hanya menyanyikan satu lagu Yang punya qolb terus membatu Dan aku, dan kita, semoga cermin tak lagi pecah. Dilarang Melarang aku ingin punya motor dan mobil tapi semua show room melarangku kerna aku tak punya uang. aku ingin memiliki rumah dan gedung tapi semua para ahli bangunan melarangku kerna aku tak punya uang. aku ingin baju celana dan pakaian baru tapi pasar-pasar, mall-mall, pedagang-pedagang melarangku kerna aku tak punya uang. tapi jangan pernah melarangku terbang bersama asap kebahagiaan khayalanku kerna kuyakin hanya ini yang tak perlu pakai uang. Insya Allah MASIHKAH ADA : cahaya pemberantas kegelapan tuk menyinari seperangkat alat jihad PEMIMPIN :sejatilah sang empunya sejati melihat dengan hati mendengar dengan hati bergerak dengan hati-hati YANG RELA :lapar demi kenyangnya rakyat miskin demi kesejahteraan rakyatnya bahkan mati demi kehidupan rakyatnya TERBAKAR :berkobar-kobar darah juang dan jiwa suci DEMI MENERANGI :buram suram kelam hari ini dan esok hari RAKYATNYA :merdeka sejahtera dan siap menjadi pembela pemimpin sejati dari neraka yang berapi Sembah Yang Kuasa ternyata Sholat itu Mendamaikan Hati Menentramkan Jiwa Menyehatkan Raga sayangnya belum Ku Lakukan Tahajud Aku-jiwaku penuh luka penuh duka bibirku kaku tanpa kata ke siapa lagi ku keluh hatiku ingin bercurah padaMu -malaminisekarang- semoga kau tak sibuk …..Tuhan…. Takdir Ketika kesejahteraan kebahagiaan dan perdamaian menyelimuti kehidupan Kau selalu dilupakan Namun ketika kemiskinan kemelaratan dan peperangan melanda Kau yang pertama kali dikambinghitamkan Lalu siapa yang sesungguhnya sang empunya kau Rokok Api Kecil dengan Asap Besar masih terus dan akan terus kuisap entah sugesti entah nyata beliau menambah akal sehat menurun amarah mendamai hati meningkat percaya diri walau kutahu ialah pengurang jatah hidupku Ingin Ku Aku ingin menjadi gunung yang angin terbesar pun menerpanya takkan tunduk Aku ingin menjadi laut yang kalaupun semua orang meminumnya takkan habis Aku ingin menjadi matahari yang tak pernah menghentikan sujudnya walau ia raja tata surya Aku ingin menjadi bulan yang tak bosan-bosannya menemani malam Aku ingin menjadi bumi yang tak pernah mengeluh diinjak-injak penghuninya Aku ingin menjadi suara yang mengisi sunyinya nada dunia Aku ingin menjadi diriku sendiri yang sampai hari ini aku belum bisa Pak Toha Merdeka Off sudah sakelar mentari Bulanbintang pun mati Pas semua orang berlari Mengejar mimpi duniawi Kau huni penjara Oemar Bakrie Kau suramkan hari depanmu Mengubur dendam cinta Melosokkan nafsu di sudut pulau Demi secuil cahya Pada mesin pikir mereka Jaya dibakkan dalam harta Kau lautkan Kehendak doenja lampu ter di terang Melilin kau di kegelapan Sinsogergaji berlomba menggundul Kau tanamsubur pepohonan Yang setiapnya apa bisa –Pelindung–Peluka–Pembunuh— Pagar kayu itu kau Dengan indahnya kebun hati Salam hormat untuk seorang sobat Muntoha S.Pd,I di tengah kemungkinannya menjadi penguasa ia berkorban menjadi guru Berdustalah Nak Pengakuannya ulang tahu ke enam puluh dua dalam selembar undanganyang kuterima. Siang itu setelah hantam kuhormati tiangdemam dengan dua warna lusuh yang mati kerna air. Muka kust melangkahkan kaki pulang rumahku. Sabuk welcome bapak menyambut. “Kusam kali muka kau nak. Di kemana jiwa mudamu” Laksana Sukarno muda suara bapak menggema. !!!Katakan aku Indonesia !!!Katakan aku cinta Indonesia !!!Katakan darah juangku Indonesia !!!Katakan kuhidupmati Indonesia !!!Katakan aku bangga Indonesia Terdesak Tenggorokan laun lidah kutanyakan untuk apa “katakan saja dengan lantang nak” Kelak kucari apa sebab. Kita Bukan Babi Seberapa tebalkah uang yang menutupi mata kita Sehingga kita tak lagi bisa melihat penindasan yang nyata Atau seberapa dalamkah ia masuk ke dalam telinga kita Sehingga kita tak lagi mendengar meninggalnya tetangga kerna dilaparkan Atau justru ia telah menjadi pakaian baja bagi kita Sehingga kita tak lagi bisa berbuat sebakteri kebenaran Setiap Kita Masalah Ke mana pun kau langkah Cobaan itu pasti kau temui Jalan Besar Gang-Gang Tikungan Tol Perempatan Setiapnya Masalah Kembali pulang bukan solusi Teruslah Melangkah dan Melangkah Teruslah dengan Alas Kaki Iman Pakaian Hati Mata Akal jangan kau Butakan agar mampu Melihat Menghidar memperbaiki duri lubang halangan rintangan Terlahir kita sebagai pemenang bukan pecundang Jauhkan getar musnahkan takut Tak peduli itu mati Kerna kita tak punya tempat sembunyi darinya Bahkan ikanpun tak bisa hidup tenang walau tak ada kucing dalam laut Mandul atau Selingkuh Bapak Pertiwiku Tak bosankah kau melihatku dalam kesendirian Tanpa kakak, tanpa adik Bapak Pertiwiku Tak jemukah kau melihat aku merenung Tanpa tawa tanpa canda? Bapak Pertiwiku Kenapa kau namakan aku duka Tanpa suka Bapak Pertiwiku Berikan aku adik kebahagiaan walau hanya satu Bapak pertiwiku Apakah kau sudah tua Sudah tidak kuat lagi Atau kau memang sudah mandul? Tapi kenapa setengah abad lebih sudah Ibu pertiwiku mengandung kebahagiaan Berupa timah, emas, gas, minyak, batu bara, Dan masih banyak lagi adik kebahagiaanku Yang berada dalam perutnya Tapi mengapa ia tak jua melahirkan Apa karena ibu pertiwiku selingkuh Sehingga adik-adik kebahagianku Dibawa lari bapak tiri pertiwiku Jawab Bapak!!! Bukan “Penertiban” Negeri ini butuh keindahan tanpa ada nada sumbang tanpa ada deretan rumah kumuh tanpa ada perpindahan barang yang tak sah Sisi wajib yang belum tertunai rakyat sejahtera makmur sentosa. Penggusuran dan “penertiban” bukan jawaban Negeri ini butuh kedamain tanpa ada demontrasi tanpa ada debat kusir tanpa ada menyalahkan Kemajuan bangsa tetap tuntutan bukan boneka bukan penjajah Tetap gagah “Penertiban” bukan jawaban. Kaya kita akan buah bukan hanya simalakama Demi perjanjian setan selalu rakyat dikorbankan Bilakah kan melawan Buruh Kau adalah pahlawan dari berdiri kokohnya sekolah Majunya pabrik-pabrik juga kau pahlawannya Kau juga pahlawan devisa bagi negeri ini Kau adalah pahlawan bagi putra-putrimu Yang penuh dengan kesulitan mengenyam dunia pendidikan juga kau pahlawan dengan hari-hari yang dihantui pemecatan kau pulalah pahlawan yang pergi dengan terbang tinggi dan kembali dengan peti mati kau adalah pahlawan sejati kau adalah pahlawan yang mulia kau adalah pahlawan tanpa apa-apa Kau megahkan gedung pemerintahan Tapi kau tak pernah dapat pilihan untuk memerintah negeri ini Kau kokohkan tempat berlindung Tapi untuk sekedar melepas lelah pun tak bisa kau peroleh Kau bangun gedung sekolahan Tapi bangku untuk anakmu pun tak mampu kau dapatkan Apakah selamanya kau akan menjadi sang pembangun yang terus dirobohkan Petani Tak malukah kau Setiap hari berkelahi dengan matahari Memenangi peperangan menjemput pagi Tak malukah kau Setiap hari dikalahkan rembulan menamu sunyi menyambut malam Namun sayang mereka tak pernah malu Menyiksamu Menindasmu Memperkosa hak-hak mu Apakah selamanya Kau akan menjadi sang pemberi makan yang dilaparkan Terasa Nggak Usah kalau Dokter memberikan obat untuk kita dapat penyakit baru sedangkan Guru memberikan ilmu agar kita bodoh lalu Hakim menegakkan hukum rimba apakah kita butuh Orang Gila Supaya kita bisa berpikir sehat Renungan Siang Bolong Ibu Pertiwi melahirkan jutaan sarjana pertahunnya lalu apa yang kita dapatkan? Apakah ekonomi kita membaik dengan lahirnya para ekonom baru Atau sarjana pendidikan kita sudah mampu melenyapkan kebodohan di negeri ini Sudahkah hukum negara ini berdiri tegak dengan ketegasan dan kejujuran para hakimnya MUHAMMAD I LOVE YOU Ya Allah tuhan yang maha bijak Dengan segala kerendahan hati hamba hendak bertanya Tentang mahluk spesial utusanMu Muhammad namanya Kenapa gelar nabi dan rasul kau lekatkan pada dirinya? Padahal dia bodoh tak bisa baca, tak bisa tulis Apa karena dia memiliki semangat belajar untuk melawan kebodohannya? Lalu kenapa kau utus dia pada waktu itu lewat rahim Aminah di Mekkah Tidak sekarang, di sini, lewat rahim ibu pertiwi? Kenapa Allah? Apa karena penindasan terbesar dari awal masa ada di sana? Allahku tak tergiurkah kau untuk mentransfer Nabi-NabiMu lagi atau sejenisnya Atau kau akan membiarkan kami tawuran melawan sejarah hingga akhir detik nanti Pemenang Sejati Hidup Suka Tawa Kaya Baik Bicara Bising Sehat Damai Mati Duka Tangis Miskin Jahat Diam Sepi Sakit Perang Telah berlalu Dan aku telah melaluinya Mati Duka Tangis Miskin Jahat Diam Sepi Sakit Perang Hidup Suka Tawa Kaya Baik Bicara Bising Sehat Damai Tengah berlalu Dan aku tengah melaluinya Hidup Mati Suka Duka Tawa Tangis Kaya Miskin Baik Jahat Bicara Diam bising Sepi Sehat Sakit Damai Perang Akan berlalu Dan aku akan melaluinya Sejarah pasti berulang Hanya pelawan zaman yang keluar sebagai pemenang Rindu Hati Kurindu waktu itu Waktu saat bumi tak berputar Ku rindu melodi recehan asap dan cairan gelap Berbagi cucu api di selangkangan jari Uraturat leher-kepalantangan-kranairmata Sesak tanah diskusi Jeritan negeri UIN-UGM saksijenuh Shaf-shaf lesehanliar Nyanyian polos Bukan koruptor bukan buronan Demi selebaran hati Poster kejujuran Spanduk perlawanan Deret jemuran tak peduli Hebat mentari bukanlah bulan Tersempit Malioboro Mikrofon parau Baut lutut lepas Hujan keringat tak terelak Suara terbentur salu Buta-tuli-bisu-bengal Taring panjang-perut lapar Itu mereka Para kawan aku rindu Deal radikal gorengan-surat kabar Ampas sisa berseduh-seduh Buku pena ejek tawa Berterbang khayal berkarya indah Mimpi seram itu nyata Gerakan hari ini Tak ubahnya buih-buih deterjen Surat-surat pak pos Aktor-aktor media Imperialisme-Peodalisme masih mengakar Demokrasi semakin abadi dalam mimpi REVOLUSI telat hatam KawanKurinduKau Masihkah ganas gelombang perlawanan Mati Belum Hidup INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI ROJI‟UN Diharapkan kepada seluruh rakyat Indonesia Untuk menurunkan bendera setengah tiang Karena tahun ini bulan ini minggu ini jam ini menit ini dan detik ini Telah meninggal dunia keadilan yang tak pernah lahir Dan semoga kematiannya Diikuti Keserakahan, Kemunafikan, Pembunuhan, Terorisme Peselingkuhan dengan modal asing Pendidikan yang mahal Guru yang bodoh, dokter yang sakit Hakim yang melanggar hukum Pejabat yang jahat, aparat yang keparat Dan semoga kematiannya diikuti pula oleh segala bentuk dan jenis Penindasan yang lainnya. (Amieeen) NEGERI DEWA MAFIA Negeri apa ini Negeri yang kehilangan bintang saat malam datang Negeri yang tak bermatahari pada siang hari Negeri yang gelap gulita Negeri yang ngeri Di sini kepala batu sangat dihargai Di sini semua orang bisa menjadi dewa Tak ada salah tak ada hukuman Hanya dengan satu syarat (seragam) Semua orang dilumuri semangat yang meruih-ruih Untuk berlomba menuju kemuliaan Kemuliaan para dewa mafia Mafialah dewa negeri ngeri ini Para anjing para babi para buaya Tak pernah berhenti berjuang Untuk melengserkan para tikus Yang terlebih dulu berkuasa dengan mewahnya seragam dewa musnah sudah rumus segan bagi mereka untuk mengusir menyingkirkan bahkan membunuh yang mereka anggap saingan walaupun itu hanya cicak bahkan semut tak berseragam Judulnya Kapan-Kafan Kami bangga berindonesia Guru bermatabat Buruh sejahtera Petani bahagia Koruptor tobat Wakil rakyat merakyat Pelajar ter Prestasi abadi Kemajuan kiblat dunia Marjinal tak di kaum Miskin musnah Pemimpin bukan wayang Hakim tak kebal hukum Aparat tidak keparat Merdeka benar merdeka Kami bangga berindonesia HAKORLEN Hijaunya mendamai hati Sepoi penyejuk jiwa Santai menyantaikan Tertanam dalam demi hidup kehidupan Saatnya tiba Di mana ia tumbuh dewasa Gagah tapi tunduk Menguning tanda siap Semangat nafsu meng-aku Ingin kujadikannya korban lapar Setiap nyawa melarangku Menghantam menghakimku Kerna ia tetaplah ia Padi tetanggaku Berita mati kata Yang hidup itu-itu saja Kecilnya dunia kita Ukiran-ukiran kertas lebar Gerakan-gerakan cahya lentik Satu nada berjuta irama Aku rindu sebuah berita-berita indah Ingin kudengar jama’ah koruptoriyah Berlomba-lomba gantung diri Tapi Kapan??? Korupsi lagi Fitnah lagi Bencana lagi Janji lagi Tawuran lagi Perang lagi Kemunafikan lagi Kelaparan lagi Pembantaian lagi Pembunuhan lagi Penipuan lagi Pemerkosaan lagi Penertiban lagi Penggusuran lagi Lagi lagi lagi Lagi gila lagi Mbah Ganas Priok Jakarta berapi-api Samudera pendiam di tepi Semangat juang, semangat serang entah sapa. Teriak Tuhan demi pahlawan Jama‟ah pasukan berlawan Korban kebijakan yang tak pernah bijak Menjelma boneka kejam, buta menghantam Tak hirau mati demi kursi. Ratusan roda menganga berbakar Butiran air dari mata dan raga Kerna menangnya kalah Sang salah berselimut takut Membungkus perih dengan janji manis Yang selalu hadir di akhir kisah. Hotel sakit dipenuhi tubuh luka Bahkan ada alpa nyawa. Kemurkaan telah menulang Utang dendam semoga tak terbayar Muak!!! Bukannya Hamba Lancang Kalau kaya tak bisa membuat kami bahagia Maka miskinkanlah kami Kalau kenyang tak bisa membuat kami senang Maka laparkanlah kami Kalau jaya tak bisa membuat kami sejahtera Maka gagalkanlah kami Kalau sehat tak bisa membuat kami selamat Maka sakitlah kami Tuhan Bahagiakanlah kami Senangkanlah kami Sejahterakanlah kami Selamatkanlah kami Walau harus dengan kematian Korban Kebijakan Terduduk aku di sudut desa Di bawah garda selamat datang, jalan Berkeroyok para sobat se-aku Dikencani botol bening sebatang sumber nada Tawa, suka, duka, teriak, malu kami nyanyikan Sore itu cuaca abu-abu Takkan henti sebelum hitam kerna janji Nada sumbang teruskan nyanyian kami Jerit teriak absen celah Hingga peluh mengotori busana kumel Dari ujung sana terlihat jelas si gagah bermobil megah Membawa para anjing gonggong menyalak Tawanan babi terikat tanpa daya Keberhasilan berburu katanya Malam ini bertaruh nyawa demi rupiah, Tuan Esoknya latih gigit tahan pukul Sorenya seperti ini lagi Kasihan kami binatang Penuh otot, kosong otak Harus sampai kapan para anjing itu sadar Bahwa mereka dijajah tuannya Sadar pun mereka tak bisa apa Tawa jijik si tuan Gula yang Asin Tingginya gunung, dalamnya laut Besarnya dunia serta jumlah yang tak ada batasnya Tak dapat mengalahkan rasa syukurku padaMu Kau telah mengaruniai kami pemimpin teladan Pemimpin yang merakyat Pemimpin yang rela lapar demi kenyang rakyatnya Detik-detik yang kami lewati penuh dengan kebahagiaan Kesejahteraan dan rasa damai Telah mendarah daging dalam tubuh kami Sekarang pendidikan tak lagi mahal Kemiskinan dan kebodohan telah musnah Tak ada lagi sakit yang mampir pada kami Terorisme terkubur dalam Curi-mati penggusuran tergusur Semua dunia berebut nyantri ke negara kami Semua kebanggan ini muncul Kerna hebatnya pemimpin kami Terima kasih Terima kasih tuhan Kalaupun kau menguji kami dengan seribu tahun kemarau Kami takkan susah, takkan geisah Kerna para pemimpin kami dengan sigap menyediakan limpahan air Air yang membasuh segar raga kami Byurrrrrrr… “Nak, nak… bangun…. hari sudah jam dua belas siang…” SENYUM TUHAN TIDAK DISINI Tuhan Aku tak lihat senyum kau Ketika luka terkucur dari kulit pertiwi yang memang sudah lama borok Tuhan kau indah Atas nama keindahan pula Jutaan pemburu sesuap nasi tergusur Damai itu kau Tuhan Rotan dalmas gas airmata peluru karet Sangat akrab bagi mereka pencari damai negeri Damai sejati damai perut damai hati Jangan tutup hidung kau Tuhan Walau ku tau miskin itu bau Tuhan kalau penguasa bengis takdir kau Maka cabutlah!!! Kami telah muak Tuhan, senyumlah dikit Kusam kali muka kau Harta Tahta dan Wanita Kita membunuh karenanya Kita menipu karenanya Kita memperkosa karenanya Kita menindas karenanya Kita senyum karenanya Kita menangis karenanya Kita melacur karenanya Kita bernyanyi karenanya Kita amar mungkar karenanya Kita nahi ma‟ruf karenanya Kita meracuni karenanya Kita berjudi karenanya Kita akting karenanya Kita mengajar karenanya Kita ceramah karenanya Kita diskusi karenanya Kita belanja karenanya Kita olahraga karenanya Kita membaca karenanya Seakan terlupa kita datang tanpanya Dan kembali kepadaNya tanpanya Kecuali rapor amal hitam dan merahnya Mereka Itu Kita Mata panas di kepala Tiga cahya pengatur laju Barisan tua tali nada Sobat jenuh anak terkarya Di belakangnya kesibukan si harta Dalam indah tingkatan ruang Memilih hambur calon pengontrak perut Di bawahnya pilahan sisa Sedarah Anak Mewah megah bangunan Roboh terlongsorkan Devisa pecundangnya Janji surga enam bulan kerja Belum tiba jemput PHK Pelawan mentari Pemberontak bulan Penumbuh hidup, mati Beri makan, lapar Mahakarya tak bernilai Ngerie soeboer ra‟jat hantjoer Penuh makanan tak bisa makan Penuh air tapi haus Mahal, bukan nyawa Pak pasal lupa utjapan hidup kita bernegara Pemerintahlah penanggungnya Kita hidup bersodara DUKA MEREKA, DUKA KITA Qomrodhiyyah Tulang-tulangku menyesak Memisau tajam Menusuk jantung hati Mematikan mayatku Padahal se pun belum terlangkah Tujuan kita masih jauh Jangan cabut baterai waktu Mari rangkul gandengan tangan Hentakkan kaki seperti dulu Aku mengangkang dalam doa Membangkitkan kelamin cita-cita Berharap kelimaks persahabatan kembali Tak mau lagi anak-anak putus asa ku dapat Kerna aku bersetubuh dengan kesadaran Kawan Aku tak lagi menelan kotoran setan kencingan iblis Lawan!!! Kalau memang miskin menggembleng kita Menuju rajin Lalu kere menuntun kita Ke arah kreatif Kemudian krisis mengasah otak kita Agar berpikir kritis Apakah selamanya kita harus berada dalam lingkarannya? Pahala Taikan Secuil tangan itu banyak Melebarkan jari-jarinya ke semua jari Katanya belum bertemu nasi Dari pagi hingga pagi ini Kutatap kusut muka yang sama Di kereta dan di kota-kota Tali erat di perut Berharap kenyang datang bertamu Tangan-tangan mungil melapang luas Dengan kencingan di tangan Serak parau jerit petriwi Nada lapar yang garang Pakaian apek habis perang Tengorokan-tenggorokan kemarau Mulut-mulut masam amis Kelus kaki tak beralas Mahkota angkuh di petir Banjir di kuping gempa di mata Bernisan cantik sepenggal hati Kapankah dosa turunan ini tertaikkan Jangan Lethoy Garudaku Kalau matamu sudah tajam Telinga dan lidahmu sudah peka kembali Sayapmu sudah tak lagi patah Rontoknya bulumu sudah tiada Kakimu sudah kokoh berdiri Maka terbanglah Terbang tinggilah garudaku Terbanglah kau setinggi mungkin Inilah harapan kami Inilah titah kami Alumunium SH.I Mencari damai dalam ramai Teriakan mesin tak sekuat putaran paku Menduniakan dunia Penuh pecahan kaca Kapan saja bisa meluka Menusuk memotong membelah Demi rupiah perjalanan napas Ucap sedikit mendapat banyak Penantian yang melelahkan Demi masa demi massa Nikmat si hitam merah berawan Barisan gunung indah belum terasa Pilihan aneh korban toga Saat dunia berebut tahta Menyelam ia dalam usaha Tak sudi jual agama Salam hormat teruntuk sang sobat Maslan SH.I Di Sini para penganut dusta sejarah telah mati hati mencoba merakyat membumi di anggap gila dunia telah kehilangan cermin memalaikat di bilang sok memblis bangga cuekisme dewa Puisi Woi Runcing Aku berada di negeri yang aku tak mau Negeri di mana kepala dan kaki bersatu menjauh Negeri yang terang benderang tanpa cahya Negeri yang kaya raya tak berharta Negeri yang beruah kebun tidak berbuah Negeri yang sejuk bersepoi-sepoi penuh api Negeri yang kubenci murni Negeri seram ini harus ditinggal Tapi kewajiban akan perubahan belum tertunai Takkan atau belum tak berjawab Padahal sebakteri itu terasa pahit ditelan Ingin dimuntah haram jaddah Hasrat berucap selamat tinggal Birahi mengujar selamat jalan Nafsuku penuh mau tapi hati tak mampu Woi, kau yang di sana Kau yang berdiri tegak di atasku Berdiri tegar dengan kesombonganmu Berdiri kokoh dengan keangkuhanmu Berdiri gagah dengan kerakusanmu Turun kau!!! Matikan saja mata lidah mulut telinga kau Tapi suburkan tanaman indah dalam hati Lalu ratap usap luka airmata mereka Jutaan bocah tak sekolah Jutaan buruh diPHK Jutaan petani yang ditikam tajam harga pupuk Jutaan pengemis hasil ciptaan kau Woi kami telah muak dengan semua ini Jangan runcing lagi amarah mesiu dan darah Senjata kami baru puisi–mikrofon–spanduk—selebaran Maka sadar, ubahlah!!! Musuh Kita Sama Kawan kurasa kita tak buta kenapa penindasan itu tak terlihat. Kawan kurasa kita tak tuli kenapa tak kita dengar jerit tangisan itu. Kawan kurasa kita tak bisu kenapa tak terucap kata perlawanan. Kawan kurasa kita berotak tak sadar dibodoh kita. Kenapa? Musuh kita sama kawan Terkuras habis kita punya tenaga Perang Idiologi Adu konsep Debat air Tujuan kita sama kawan Jangan perdebat lagi jalan itu Jangan permasalahkan lagi gang itu Mari melangkah bersama Aku Bangga Kawan Inilah Negeri Rongsokan* Tulisan yang selalu kubaca Ketika buang sampah Aku tertawa geli penuh murka Hah… ada-ada saja kawan Tapi kau tak dusta Kerna ibu pertiwi tertunus Belati Itu> Terluka hampir mampus Oleh anak-anaknya yang berhati karatan ——————– *judul buku karya M Azhari AF >judul puisi WS BUKAN ISLAM Semoga mataku salah ketika kulihat Rombongan peciawan lengkap dengan alat pembunuh sedang latihan Sebuah gerak gambar yang muncul di tipi-tipi merekam jejak pelaku bom keji tadi pagi Lalu satu/satu dengan penuh semangat mereka berkata “Ini adalah jihad yang wajib dari Islam” Kurang lebih inilah inti yang kutangkap Padahal Islam cinta damai Selalu menghormati setiap ruh yang tertiup Aku juga menonton pilem yang hampir setiap malam ibuku menangis kernanya Aku melihat aktris cantik yang kebetulan di sinetron ini berjilbab Mencium tangan dicerita sebagai suami yang kemudian mencium keningnya Padahal aku tau betul bahwa mereka bukan mahrom Lalu ada tante sedang menaruh racun kedalam gelas lagi-lagi masih di dalam ini Kemudian aku menyuruh adik untuk berhenti menonton, malah ia berujar “di bulan puasa pilemnya makin seru, itung-itung nunggu taraweh” Aku hanya berpesan kepada adik tersayangku yang baru naik kelas tiga esde “dik…ini pilem islami tapi tidak Islam” Esoknya kusaksikan duyunan orang ke selatan laut di pulau sana Membawa makanan-makanan enak di atas dulang hanya untuk dibuang Dengan tenang seperti tanpa dosa dalam wawancara seorang ”berkata” “ini bentuk sukur kami,menyambut hari Nuzulul Qur’an dan menolak bala” Padahal sebelum memubazirkan makanan itu segala Allah dibawa-bawa,tempat sewajibnya kita meminta anehnya lagi, dua bulan lalu di depan sebuah gedung mereka teriak “KAMI LAPAR” Aku masih ingat betul kerna aku tergolong didalamnya Islam seakan menjadi busana indah Penutup borok si pengguna Hingga penulispun memakai Yang akupun tak yakin kan keIslamannya Hheh… Bila pintu surga telah terbuka untuk umum maka dengan dahsyat KTP-KTP itu memasukinya Ghayyir!!! Terlalu lama sudah Negeri ini bersetubuh dengan bencana Halilintar Kebodohan Badai kemiskinan Banjir tangisan Tsunami jeritan Gempa amarah Tak bisakah dicegah Tak mampukah merubah Tinggi ilmu buat nipu Kekuatan melemahkan Kaya harta miskin hati Sodaraku… Indera kita hidup kenapa diam Apa kerna kilauan harta mata silau Apa kerna pengeras suara pengurang dengar Apa kerna enak rasa beku lidah Sodaraku… Kita ummat Satu Kita kaum Mari kita ghayyir semua ini Maaf Guru, Ampun Tuhan Guru, malam itu aku menghentikansukur akan bulan bintang Kerna asikku gemerlap lampu Melupakan sejenak luasnya dunya Lantunan-lantunan merdu ayat-ayat Tuhan yang dulu kau lontar Tak lagi menggiurkan Kalah sama desahan biduwan-biduwan waw Dzikir tahlil energik jiwa raga isya sampai subuh Terputus rekor Angguk geleng loncatanku Damai idaman kau ku langgar Khilaf pesan sadar Tapi tenang guru Kau tak pernah kulibat dalam setiap dosaku Yakinku Pak mari musyawarah desa Banyak informasi baru ….. AH Bung mari turun ke jalan Bukti bahwa kita pasti bias ….. AH Kawan ke TPS yuk Pemilihan umum telah memanggil kita ….. AH Kuyakin betul bahwa mereka punya alasan kuat Kenapa putus asa ini mengalir deras Tapi ku lebih yakin bahwa Perubahan adalah ijab Kabul kita dengan tuhan^ ————— Penggalan tulisan karya Irwan Bajang Entah Kawan, entah kenapa Aku paling benci dengan kata-kata berikut ini: Guru pahlawan tanpa tanda jasa Gizi buruk Saya difitnah saya didzalimi Penertiban Demi hukum Gemah ripah lok jenawi Orang pakir dan miskin di pelihara oleh Negara Wajib belajar 9 tahun Kalau kau tau jawab kenapaku Tolong ketik di dinding pesbuk Ibu Tiriku Pincang Apa kabar ibu kota? Kurasa adamu sehat Terlihat jelas sehatnya kau Dalam balutan senyummu yang manis Indahnya matamu, berserinya wajahmu Kala memandang istana megah Gedung-gedung mewah Kampus-kampus istimewa Dan masih banyak tempat-tempat yang wah lainnya Sehat kau ibu kota? Jakarta… takkah kau lihat dibalik itu semua Para anak kecil tak bersekolah Perang melawan mentari Menjual Koran demi sesuap nasi Ibukota… tak mendengarkah kau Tangisan bayi sepanjang hari Karena tak punya susu pengganti ASI Jakarta Ibukotaku sudah tak pekakah hatimu Merasakan jerit tangis mereka kerna ulahmu Jakarta… butakah kau Ibukota… tulikah kau Jakarta Ibukotaku… apakah hatimu sudah mati??? Belati Itu Mungkin aku tak bisa ungkapkan rasa apa yang kurasa ketika kutikam kau kemarin. Tapi jauh tersimpan perih ketika kupaksa tanganku mengelap darah yang menempel di belati itu. Jauh aku merasakan keperihan ketika harus kutahan gejolak emosi. Karena aku takkan membiarkan rasa kasihan menyelimuti perasaanku. Aku bukan orang dekatmu, tapi kau memaksaku melakukan hal yang tak ingin aku lakukan. Ah……… selamat jalan sobat. Belatiku akan selalu mengingatkanku padamu dan kilauan matanya selalu membayangkan darah yang mengalir dari pangkal sampai ke ujung dan menetes tepat di penghujung akhir nafasmu. Yogyakarta, Mei 2010 Sampai Kapankah Keluhku di sunyi pagi seakan tak memberi kesejukan Jeritku di terik siang membuat kerontang mendahaga…. menjerat dalam kerongkongan Rintihku di kegelapan malam… tiada kehangatan yang bersarang di tubuhku Kemarin kita mengeluh………. apa yang dikeluhkan Sekarang kita menjerit……….. mengapa kita menjerit Esok kita merintih…… ratapkah…….. sampai kapankah….. Yogyakarta,. 03 Mei 2010 Kawan Baru Remang……. kulewat kuburan ….. Sepi…….. yang kurasakan Sunyi…… jauh dari keributan Senyap…… tiada perdebatan penuh kesombongan Keras ku dengar kebut sepeda motor mendekat ke kuburan…. hampir ia menyerempetku….tertawa dengan seringai keangkuhan menoleh ia ke arahku Seringai tawanya mengingatkanku pada mereka yang selalu terbahak-bahak saat yang lain penuh dengan kesedihan…… Bruk….. tubuhnya terpelanting dengan kepala membentur nisan…….. tanpa rintihan…….. kupalingkan muka ke kuburan itu ………. kalian dapat kawan bisikku……. hening…… Yogyakata, 12 mei 2010 Sang Lalat Semilir angin menyapu kudukku Sepoi dingin pun menderu di kamar itu Jerit mengelisah di balik selimut malamku Menyeruak rasaku dan berlalu lelapku, Tak nyenyak malamku, menggelisah resah dingin meragu Hingga melipat ragaku di harap dengkurku Tapi tamu-tamu itu menyapaku…… Lalat-lalat itu beterbangan di tatapku Masuk mereka lewat fentilasi dan pintu Menyeruak kegembiran mereka akan kehadiranku Tampak asyik menari di hadapanku serasa sungging mereka ingin mencumbuku Denging berteriak ditelingaku “hore… ada mangsa baru…..” Kibas tanganku adalah jawabanku Minggir! aku sedang tak ingin bercumbu… Magelang, 19 Agustus 2010 Senandung Sederhana Temaram lampu jalanan beradu dengan cahaya rembulan. Menyinar mereka ke segala penjuru Di perempatan jalan bocah tak beralas kaki itu bersenandung Entah rintihan entah jeritan serak dari kerongkongan Mengharu iba tatapan matanya. kendaraan berhenti ia pun bernyanyi beradu dengan suara kendaraan….. rautnya tak bersenyum…..menengadah tangannya berharap ia kepingan recehan dari pengendara. …… seorang pengendara memberikan selembar uang ribuan…. ia tersenyum….. seribukah harga senyuman itu……. esok tersenyumkah……… Duduk bocah itu di bawah lampu penerang jalan di samping pos polisi…….. Ah… Jalanan mulai sepi.. sudah larut malam.. Yk. 8 Mei 2010 Tak Ada Larangku Gemericik air yang mengalir dari selokan samping dapur Tempatku bercengkrama bersama anak-anak itu Serasa suara hujan yang tercurah dari langit Di hadapan bocah-bocah itu kumulai ceritaku Terserah, mengalir begitu saja dari mulutku Yang penting mereka senang fikirku Kuhisap rokok di tengah kekeh mereka akan ceritaku Memang itu yang kuingini dari mereka Keceriaan Kegembiraan Kesenangan Juga kemerdekaan Tanpa ada larangan untuk tertawa Tanpa berbatas usia Tiada berkedudukan lebih tinggi Hanya di emperan teras dapur Aku hanya menginginkan kesenangan bagi mereka Kemerdekaan akan saling mencintai Tanpa nafsu jabatan Tanpa syahwat politik Tanpa birahi kekuasaan Gondowangi, 01 Desember 2010 PERMADANIMU Han, indahnya permadaniMu… Hamparan hijau dihadapanku tak jemu memanja mataku… Di balik letih langkahku, ketemukan kepuasan dalam sejuta kenikmatan dengan karyaMu… Desiran anginpun seakan mengabarkan rindu… Han, disini kucoba merengkuh rinduku padaMu… tapi aku malu… Ha…ha..ha… ya, aku malu… Makilah aku semauMu…. bila ku tak lagi punya rasa malu… Itu pun bila bisa memuaskan dahagaMu… Aku tahu dalam diamMu kaupun merinduku… Ah, tak terasa mega senja pun berlalu… Hamparan hijauMu menggelap di pandanganku… Rintih di diamku memanggilMu… Aku rindu ingin bercinta ria denganMu… Tak ingin rinduku pun berlalu… Puncak Suroloyo, 27 Agustus 2010 Lalat Lagi Lalat Lagi Lalat-lalat itu berkeliaran kian kemari…. Menari nari di atas sajadah yang terhampar tak rapi… Seraya mengabarkan lewat nyanyian yang tak musti… berpadu suara serupa tak seirama pasti… Kawan-kawan, ayo hepi-hepi… Dikepung kita dikepung lagi… Lalat lalat itu menepi di kepala, tangan dan kaki…. Menuangkan kegembiraan dan keasyikan sendiri…. Onggokan kain pun dihampiri… Tak terlewati gelas mengasbak dan tumpahan kopi…. Dalam renung dini hari yang menyepi…. Aku tak sendiri berteman lalat-lalat yang siap mencumbui… Tak sempat kunikmati segelas kopi… Temanku sang lalat sudah lebih dulu merenangi dangkalan kopi… Dan yang lain masih menikmati tumpahan kopi yang mengering dan kaki-kaki yang berdaki….. Ah, apa yang tak kalian hampiri…. Ayo…sini… Bersamaku bernyanyi dan menari…. Selayaknya bersin yang tersengal di tenggorokan… Dan kentut yang tersangkut di perut.. Keasyikan kita takkan berturut… Meski kalian masih berkerubut ribut… Tiada kata disebut… Ah…, lalat lagi, lalat lagi… Cabeyan, 28 Agustus 2010 Senandung Rindu Untuk RH, yang selalu merinduku Sayangku…. Celoteh ringan di bibirmu…. Sungging di senyummu…. Kembali membayang di pikiranku…. Rengek manja hingga tawa renyah itu bermain di pelupukku… Kicaumu di telingaku menyeruak syahdu Nyanyianmu membelai rindu bergebu.. Gelisahku akan gemulai gelayutmu di pangkuanku… Ah…. Masa itu… Manisku.. Jauh ku darimu, tak berjangkau belaian dariku… Aku rindu membelaimu… Menggendongmu… Menuntunmu… mengajarimu… Bersenandung ria denganmu.. Melepas rindu hingga berlalu… Manja gemulai lincahmu.. Terbayang masa itu, kita di atas hamparan usang… Berteman riak-riak yang menggelombang kecil hingga ke tepian. .. Tertancap di anganku nyanyian renyah berderu angin lalu kala yang lain melintas berlalu…. Ah…… tak hambar bila rengekmu masih ada di mataku… Masa itu … desir angin pagi yang dingin menusuk kulit tampak menghempaskan embun-embun di dedaunan…. Pemandangan nyata kekraban alam, anugerahNya… Hingga menelanjangi kantukku…. Suara air yang menghempas hingga desiran angin yang berteman dengan kicaumu seakan nyanyian rindu yang berkelebat di otakku… Berteman semilir yang menerpa hamparan hijau serasa sejukkan alam jiwa… Teriak di mungil bibirmu berpadu dengan nyanyian alam di pagi itu… hingga hadir senyum di bibirku… Ah……masa dulu… Yogyakarta, Senin 11 Juli 2010 Senandung Dengkur Di tegah lelapnya malam Seirama lolongan anjing yang meredup redam Diantara rintihan keangkuhan yang menikam Menyayat senandungmu dalam dengkur yang kian mencekam Di alasmu yang bau dan berdebu Kau masih bisa bersenandung dengan iramamu Sementara nyanyianmu serasa rintihan dalam tawa kelakar yang menderu Bisingnya yang berlalu kian mengganggu lagumu Nyamuk-nyamuk sial kini mengakrab denganmu Nyanyian mereka yang bermain di telingamu seibarat nada penghiburmu Tubuhmu seakan santapan lezat mereka yang semakin tumbuh subur di genangan comberan dan gunungan sampah yang membau Tapi kau masih bersenandung…. Yogyakarta, Okt. 2010 Bu Keangkuhanku serasa lara yang menghantuiku… Memoles kegersangan jiwaku dengan kelembutanmu… Belaianmu selembut embun yang menetes dari dedaunan kala mentari menyinar dan kebeninganembun itu serasa sejuk di dahagaku Bilakah tubuhku menepi di tubuh yang kaku ku takkan jauh darimu hingga menkerontang di tubuhku… tak rela mengingkarimu Aku berlumur nista berbaur dengan debu kedustaan.. telah …melumat kerakusan dengan segala kesombongan.. hingga keras membatu di atas segala aku Keriput diwajahmu… ingga mongering tubuhmu… memilu hatimu.. hingga aku hanya menatap tanpa sayu.. murkalah aku.. Kerinduan itu menyelinap hingga aku bergelayut di pundakmu… ku tertidur di pangkuanmu.. meng-iba kasih sayangmu… menusuk atas kegersanganku.. Bila hanya ini untukmu tak cukuplah untukmu.. hanya terimakasih telah melahirkanku.. Tak cukuplah itu.. ku rindu nasehatmu yang tak pernah kugugu… Ampun… ibu… Aku rindu…ibu… Yogyakarta, 2010 Negeri Petaka Melihat negeri angkuh yang menggejolak Awan gelap beriring menyeruak Segala tangis teriak memekak Hati hanya menggerutu terlontak Negeri itu dibangun oleh hati yang tak bisa merasa Negeri itu dibangun oleh otak yang tak bisa bergerak Negeri itu dibangun oleh keringat mereka yang tak pernah bisa memegang cangkul Negeri itu buta oleh pandang mata meraka yang melihat Awan gelap bergulung menggelisah Angin berhembus bawa kabar duka Alam bawa kisah meresah Lolongan anjing membawa kisah resah Gemuruh petaka terus melanda Ya, negeri petaka Yogyakarta, 13 januari 2011 Menanti Mentari Kunanti sinarmu Tapi senja baru saja pergi Juga hari tadi tak kutemukan sang mentari yang menyinari Malu ia unjuk diri Sementara lampu jalanan mulai menyala Cahayanya yang pias beradu dengan cahaya lain Menyinar merka ke segala penjuru Tapi bukan itu yang kurindu Aku merindukan mentari yang selalu menjanjikan harapan Tapi pagihingga beranjak sore tadi ia selalu bersembunyi di balik awan Selubung gelap sang awan selalu dan selalu menyelimuti Hingga hampir pupus harapanku akan sinar mentari Kapankah ia bersinar lagi Aku mengharap sinarmu Bukan kabut kelabu yang kumau Ayo mentari bersinar lagi Gondowangi, 02 Desember 2010 Serasa Rasa Rasa-rasanya aku merasa tak merasakan rasa apa yang kurasa tentang perasaan….. Karena bila dirasa-rasa takkan terasa… Dan aku tak merasa mencuri rasa sang rasa yang membuat aku berperasaan rasa yang tak punya perasaanlah yang telah mencuri rasaku……….. Karena perasaanku pada rasa hanya tentang rasa……… Walau tetap tak berasa dan serasa hanya dirasa…… Bila dirasa rasa pun punya rasa…. Dan aku pasti punya rasa…… Mereka yang tak punya perasaan ……. Yang mencabik-cabik perasaan jiwa-jiwa yang mereka rasa bodoh..kecil… kotor… bau… hina… Yang menuli dengan teriakan.. jeritan .. keluhan….rintihan.. serasa angin di telinga…. Yang membuta dengan keadaan serasa gulita di mata…. Yang hanya berkoar tanpa nyata serasa kentut dan sendawa…. Ah…. bila mereka merasakan…. Bila nasiku dicuri…… Bila minyakku dicuri…. Bila ikanku dicuri…. Bila waktuku dicuri…. Bila milik kita dicuri….. Bila harga diri kita dicuri….. Rasalah…! rasakan…!….Rasain…! Apakah mereka tak merasa……… Bila dirasa… rasa-rasanya mereka tak merasa karena tak merasakan… Ah…. coba mereka punya rasa….. Sapen, 29-5-2010 Terrrruntukmu Gerrrrutuku Kawan, ibarat kepul yang keluar dari mulutmu… luapmu itulah dirimu dan kentutku terasa berat. Kawan, muak kulihat wajahmu hambar kudengar celotehmu di sini hanya ada diriku dan dirimu kau dan aku, anda dan saya Tak berlaku orang lain di sini Tidak dirinya, tidak dia tidak mereka tidak juga kami atau bahkan kalian Tak ada persahabatan hanya permusuhan tak ada persaingan hanya sapa kata tetangga… (ah….tetangga tak mesti terlibat…!) Jangan harap senyumku hadir di bibir(mu) hanya sinisku di raut(mu) Wahai kawan hanya kawan. Yogyakarta, 16 April 2010 KOTA SAKIT* Di sini, di kota ini kita masih bisa bernyanyi segala rupa kita masih bisa berteriak serak memecah sunyi tak ber-apa tak hingga membahana segala bunyi, tak serupa melantang menantang segala siapa Mendahaga kering kerongkongan makian menyeruak nyanyian pinggir jalan melangkah bersinggah tak berkendaraan meluap dianggap recehan dan puntungan Di sini, di kota ini kita mengumpulkan segala penyakit membatas diri tak menghindar sakit begumul hingga menahun membukit dan kita terduduk diam tak bertopang bangkit Berjongkok ria kita di hadapan hamparan usang Mengharu iba mencari keturunan berkedudukan lapang mengumpulkan kepul berharap berbintang hitam mendaur-daur ulang hingga meng-kerontang Selangkah berhadapan dengan dunia angkuh mendunia berbangga berpamer belaka segala rupa menipu dengan nyata berteman nyanyian tak berjiwa Bersenandung dengkur penggali kubur menggelapkan segala bias kabur menyelusupkan gemulai tari sang penghibur menggersang di atas pulau subur Di kota sakit kita tak lagi senyap bertumpah sumpah, berserapah hingga meluap sesaat tak berpelita di tengah gelap hingga sunyi sang penyuara tak bersuara, lelap. Yogyakarta, 2 Juli 2010 *Komunitas Sastra Kopi Pahit Jumawamu Terpana pandanganku melihatnya Tak jumawa bisikku tanpa telinganya seruak ia ketika ku topang dagu hingga bisikan itu semakin ragu tekuk lututmu bisikku dalam teriak riakku akan menggelombang hingga tak berpijak mengelisah gelisah semakin membiak sadarkah jumawamu buatku muak Yogyakarta, 1 Juni 2010 AKHIR SEBUAH CERITA Entah bagaimana aku harus mengakhirinya. Setelah sekian lama aku menuliskan rangkaian cerita di atas lembaran buram hidupku dengan tinta yang sesekali harus ku timpa dengan tambalan-tambalan yang pastinya berbekas. Terlalu banyak coretan-coretan yang tak bisa kuhindari untuk selalu memunculkan memori-memori menyedihkan. Akupun tak terlalu berharap untuk mendapatkan tinta emas yang nantinya kan kutulis segala keindahan-keindahan di lembar akhir cerita. Sudah terlalu banyak catatan-catatan orang yang kubaca dan pasti berakhir dengan keindahan ataupun kebahagiaan. Derita di awalnya dan bahagia di akhirnya. Kau pasti mengharapkan yang demikian. Tapi tidak dengan aku, tidak ada ruginya jika aku menambah satu lagi cerita penderitaan di bumi ini. “Ma, dimana bapak?” Rengekmu. Rengek bocah tiga tahun. lembut kau bicara padaku dengan senyummu yang kurasa sebagai sebuah cibiran padaku. Ya … senyuman itu juga yang telah menghantarku sampai di tempat ini. Aku tak juga menjawab pertanyaanmu. Ya, mungkin kau mengharap belas kasihku. Tidak!, meski senyummu itu masih ada di bibirmu, aku tak akan melayani keinginanmu. Kubelai rambutmu, dengan sedikit paksaan senyuman yang seakan berusaha menyenangkanmu. Tapi, jauh di lubuk hatiku aku masih memendam bara yang lambat laun pasti akan menjadi kobaran api yang turut pula membakar hatimu. Mungkinkah senyuman itu dapat mengakhiri cerita. Ah……. akhir sebuah cerita tak selamanya indah. “Tidur nak, sudah larut” Pintaku dengan sedikit senyuman. Seperti biasa kau tampak menuruti pintaku, dan segera kau pejamkan mata mu. Aku yakin kaupun tak segera tertidur, hanya sandiwara mu saja dan berharap aku mengira dirimu sudah terlelap dalam buaian mimpi. Dan seperti biasa juga aku akan segera meninggalkan dirimu. Dengan berat tetap aku meninggalkanmu. Aku yakin kau pasti mendengar langkahku, ekor mata mu pun akan mengikuti langkahku . masih dengan penuh sandiwara aku pun berpura-pura-menganggap dirimu sudah terlelap, karena itu juga yang kau harapkan. Aku tahu kau akan bangkit dari baringmu dan menatap langkahku di kejauhan dengan penuh dendam, aku yakin kau ingin mengejarku. Tapi kau tetap diam. Ah.. sandiwaraku pasti yang lebih meyakinkan. Yogyakarta, Feb. 2010 Mulailah Mari buka mata dan telinga kita Sucikan hati jauhi emosi Kepalkan tangan Satukan jiwa Rapatkan barisan Demi satu tujuan Untuk cemerlangnya hari depan Data Penulis Devtra Mayday adalah nama pena dari Devisa Saputra. Putra Negeri Laskar Pelangi kelahiran MAY DAY 1987 ini merantau sejak 1999 menuntut ilmu di salah satu pesantren di Ponorogo Jawa Timur, kemudian melanjutkannya di Ciamis Jawa Barat dan Jogjakarta. Gelar SE ia raih pada Maret 2010. Selain aktif di komunitas sastra Kopi Pahit, pemuda desa asal Bedengung Bangka Selatan ini juga aktif di berbagai organisasi baik nasional maupun primordial. Saat ini ia diamanatkan menjadi ketua umum GAPURA Ba-Bel. Wiwin Solikhin, Lahir di Campang Tiga, sebuah desa di Sumatera Selatan, 06 September 1987. Saat ini masih mencoba menyelesaikan kuliahnya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Alumnus Pon-Pes Al Ittifaqiah Indralaya, Sum-Sel ini pernah menjadi Koordinator Umum Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang DI. Yogyakarta, Pimpinan Redaksi pada majalah Blangkon, ia pernah juga terlibat Aktif di Sanggar FMN Yogyakarta. Kini ia aktif di Komunitas Sastra Kopi Pahit, Baginya sastra bukan sekedar “nyanyian nina bobo”. Erwin Syahputra, adalah nama pena dari Erwin Putradiansyah. Lahir 30 Juli 1988 di Desa Sungai Balak, Sumatera Selatan. Selain di Komunitas Sastra Kopi Pahit ia juga pernah terlibat di beberapa organisasi. Di samping mengurus kuliahnya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saat ini ia aktif di Ikatan Keluarga Alumni Pon-Pes Al Ittifaqiah (IKAPPI) sebagai Majelis Komunikasi Organisasi (MKO). JANGAN SAKITI LAGI IBU PERTIWIKU AKU TAK PUNYA CUKUP BANYAK TISU UNTUK MENGHAPUS AIR MATANYA HIDUP ADALAH PERJALANAN INDAH MENUJU KEMATIAN

439

perbanyak kawan tapi jangan takut bermusuh….